Tampilkan postingan dengan label Tips-Trik dan Provokasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips-Trik dan Provokasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Maret 2012

Tak Sepaham dengan Boss

Ketika harus ‘Berseberangan’ dengan Boss
Oleh : Abu Majid
   ‘Berseberangan’ dengan Boss bukanlah suatu hal yang harus dihindari, tidak selamanya kita harus sepaham dengan Boss. So, karena dengan berbeda pendapat mengindikasikan adanya engaged, kepedulian dan konsen terhadap perusahaan. Keterikatan terhadap perusahaan, rasa ikut memiliki, loyalitas dan sejenisnya merupakan hal penting yang harus ditumbuhkan pada setiap diri karyawan.
    Boss adalah wakil perusahaan yang membawa misi dan goal-goal yang akan dicapai perusahaan, sedangkan karyawan adalah sebagai pelaksana dalam mencapai hal itu, sehingga keselarasan antara keduanya adalah hal yang wajib.
    Dalam dunia kerja, anda dituntut untuk memberikan kontribusi terbaik bagi organisasi tempat anda bekerja. Salah satu caranya adalah dengan menyumbangkan saran dan pendapat anda bagi kemajuan perusahaan. Semua pasti setuju bahwa berbeda pendapat adalah hal biasa. Karena tentu anda memiliki pendapat pribadi yang berbeda dengan pendapat rekan anda yang lain .
Tetapi bagaimana bila berbeda pendapat dengan bos atau atasan anda?  Bos maunya A sementara anda berpendapat B. Namun anda sendiripun merasa tidak enak hati bila tidak menyetujui pendapat bos. Memang selama ini yang terjadi, staf atau anak buah cenderung manut dan menyetujui pendapat atasannya.
    Psikolog dan Pelatih Eksekutif di Portland Linda Carpenter, mengatakan , “Rata-rata staf-staf di perusahaan selalu mengatakan ‘ya’ terhadap pendapat bosnya hanya untuk dianggap sebagai karyawan yang baik. Padahal, anda tidak harus selalu setuju dengan bos. Jika anda selalu setuju akibatnya justru akan fatal, anda akan kehilangan kredibilitas”.
Jangan salah, produk-produk seperti itupun banyak di perusahaan kita, Pupuk Kaltim. Sehingga ketika pada saatnya ia menduduki jabatan maka iapun akan menjalankan rytme yang sama dengan boss yang lama. Dan yang perlu diwaspadai biasanya system seperti ini ‘menggurita’ sehingga sulit ketika ada seseorang yang berniat ingin mengubahnya.
    Cara yang paling bijak menanggapi pendapat bos, berikan persetujuan anda jika anda memang setuju. Tetapi belajarlah untuk berdiplomasi jika anda berbeda pendapat dengannya. Misalnya dengan berkata, “Pada dasarnya saya setuju, tetapi….” atau " Maaf Pak, Jika diperkenankan saya mempunyai pendapat, bagaimana jika" dll. Ingat, sesungguhnya seorang bos memang merasa senang jika pendapatnya disepakati oleh anak buahnya. Karena tentu ia merasa memiliki otoritas penuh dalam mengeluarkan pendapatnya. Apalagi jika saran dan pendapatnya disertai dengan pujian dan kekaguman.
Tetapi, anda pun berhak tidak setuju. Sejauh itu, tidak ada peraturan yang memuat sanksi hukuman bagi para staf dan bawahan yang berbeda pendapat dengan atasannya. Karena mengeluarkan pendapat adalah hak asasi setiap insan di alam demokrasi ini. Namun, yang paling penting, jika anda memang tidak sependapat dengan bos, tawarkanlah ide lain sebagai solusinya, jangan asal tidak setuju. Karena bisa jadi perbedaan pendapat tersebut hanya karena beda sudut pandang atau beda wawasan saja, yang sebenarnya memiliki tujuan yang sama.
Perlu anda waspadai, jangan sekalipun melecehkan pendapat bos yang berbeda dengan anda. Siapapun tidak suka jika dilecehkan, apalagi dia seorang bos, atasan anda! Maka sekalipun anda berbeda pendapat, kemukakanlah dengan penuh sikap hormat..Jangan menampakkan sikap yang menjatuhkan wibawa boss.
Percayalah, berbeda pendapat dengan bos, tidak akan menyebabkan anda dipecat. Nah mulai sekarang, tidak perlu anda takut berbeda pendapat dengan bos. Asal anda bisa menyikapinya dengan bijak dan hormat, why not ? Toh pada akhirnya akan ada kesepakatan dalam menyikapi perbedaan tersebut.
Kemukakan pendapat anda, jangan didepan boss anda setuju tetapi ketika dibelakang anda menggerutu dan mencemarkan kehormatan boss didepan rekan-rekan anda………( Abu Majid )

Jumat, 06 Januari 2012

Karier Karyawan

Antara Pengembangan Karier dan Produktivitas Karyawan
Antara Masa Kerja dan Latar Belakang Pendidikan
Oleh : Abu Majid

    Masih ingat ketika dulu kita menghadapi interview untuk masuk ke Pupuk Kaltim ?. Apa motivasi kita ingin bekerja ?. Mungkin ada diantara kita yang menjawab “ingin mencari pengalaman”. Ketika jawaban itu yang kita berikan maka interviewer pasti akan mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang menggiring pada jawaban “yang seharusnya”. Tapi memang, “mencari pengalaman “ bukanlah satu jawaban yang cocok jika kita aplikasikan dalam pekerjaan kita sekarang ini. Jika bekerja tujuanya adalah mencari pengalaman, maka sudah seharusnya kita mengerjakan semua pekerjaan tanpa ada tuntutan dan keluh-kesah. Kenyataannya bekerja memang bukan itu kan tujuannya ?
   Dalam suatu perusahaan, Karyawan tak semata dituntut bekerja keras, loyal, dan berkomitmen yang kemudian menghasilkan produktivitas yang tinggi. Karena pada kenyataanya produktivitas tidak bisa dilepaskan dari masalah pengembangan karir karyawan. Karier merupakan kebutuhan yang harus terus ditumbuhkan dalam diri seorang karyawan, sehingga mampu mendorong kemauan berkinerja, yang akhirnya prestasi dapat diraih.
   Ketika memulai langkah memasuki dunia kerja, mungkin kita akan membayangkan perjalanan karier yang mulus dan lancar. Namun faktanya harapan dan kenyataan tak selalu berjalan beriring. Tak sedikit perusahaan baik besar maupun kecil yang kurang peduli dan agak mengabaikan perjalanan karier karyawannya. Imbasnya, karyawan hanya diberi pilihan take it or leave it. Banyak karyawan yang kemudian harus mengalami degradasi produktifitas karena semangat kerja yang turun.
  Secara klasik semua orang mempunyai pandangan yang sama, bahwasanya seseorang yang bergabung ke sebuah perusahaan hanya dituntut bekerja keras, berprestasi baik, loyal, dan berkomitmen. Hasilnya dia akan mendapatkan kompensasi yang memuaskan, rasa aman, sekaligus karier yang baik. Walaupun nyatanya tidak selalu demikian. Banyak faktor yang mempengaruhi jalan karier dan pengembangan karier seseorang. Banyak aturan yang harus ditaati meskipun terkadang ada aturan yang sedikit bertentangan dengan idealisme kita.

Dalam persaingan bisnis diera globalisasi ini, perusahaan memang dituntut untuk memperoleh tenaga kerja atau sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Namun memperoleh tanpa bisa mempertahankan dan mengelolanya dengan baik hanya akan membuat karyawan yang semula berkualitas berubah membebani biaya. Lebih extrim lagi karyawan akan mencari tempat yang bukan hanya menjanjikan gaji yang lebih baik tapi juga karier yang barangkali lebih jelas dan cemerlang. Ini tak hanya dialami oleh perusahaan-perusahaan kecil, perusahaan menengah dan besarpun bisa saja mengalami yang namanya Turn Over Karyawan.
   Seperti disebutkan diatas, Karier memang merupakan kebutuhan yang harus terus ditumbuhkan dalam diri seseorang tenaga kerja, sehingga mampu mendorong kemauan kerjanya. Akhirnya prestasi dapat diraih. Dan tentu saja banyak faktor yang mendorong karier seseorang seperti faktor kecerdasan intelektual, keterampilan kerja, dan kematangan emosi. Kematangan emosi turut mempengaruhi, yaitu, kemampuan mengendalikan emosi tertentu secara stabil sesuai dengan perkembangan usianya.
Kemampuan ini antara lain bagaimana seseorang merespon atau bereaksi terhadap fenomena tertentu. Misalnya, ketika menghadapi konflik internal dalam tim kerja. Di situ setiap individu karyawan bekerja dalam suatu sistem yang memiliki ciri-ciri interaksi sosial. Karena itu, setiap karyawan harus mampu mengendalikan emosinya untuk menciptakan, mengembangkan, dan memelihara tim kerja yang kompak
(Tb. Sjafri Mangkuprawira, Guru Besar IPB dan pengamat SDM).
  
Tiap individu karyawan sebenarnya berhak memiliki peluang untuk mengembangkan kariernya. Walau kenyataannya, ada saja karyawan yang kariernya terlambat, mandek, atau mentok. Penyebabnya, karena ada yang salah dalam sistem penilaian kinerja karyawan dan bisa juga adanya perlakuan diskriminasi dalam perusahaan, misalnya faktor subjektivitas dari atasannya. Tetapi pada perusahaan dengan sistem karier yang handal, penyebabnya
barangkali adalah datangnya lebih dari individu bersangkutan. Contohnya, individu yang tidak kompeten atau tidak mau berkembang.
    Dalam sebuah perusahaan, usaha pengembangan karier biasanya datangnya dari manajemen perusahaan. Tujuannya adalah untuk melihat potensi di luar pekerjaannya saat ini dan untuk mempersiapkan diri mereka dalam menghadapi pekerjaan di masa yang akan datang dalam organisasi tersebut. Ringkasnya, bagi sebuah organisasi atau perusahaan, pengembangan karier memang akan sangat berarti dan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. Pertanyaan kini menggelitik kepala kita, Bagaimana hubungan antara masa kerja dan latar belakang pendidikan dalam pengembangan karier?. satu kasus misal, satu karyawan berpendidikan SLTA dengan masa kerja 25 tahun, dengan karyawan Sarjana yang masa kerjanya 10 tahun. Keduanya memiliki perbedaan masa kerja dan jenjang pendidikan, tetapi memiliki grade atau golongan yang sama. Ketika ada satu jabatan yang harus diisi, ternyata perusahaan memiliki kebijakan bahwa hanya karyawan-karyawan sarjana yang mempunyai kesempatan untuk memperebutkanya. Lalu bagaimana nasib karyawan senior yang mempunyai grade sama, kapan dia punya kesempatan untuk bisa turut bersaing mengambil peluang?. kalau kita tarik benang merah antara kedua perbedaan tersebut, lalu kita urai satu persatu maka kita dapat mengambil beberapa point.:
  1. Karyawan senior memiliki pengalaman kerja yang lebih, sehingga penyesuaian diri terhadap job des lebih mudah. Karyawan junior memiliki teoritis yang complete dan ide-ide yang lebih cemerlang.
  2. Karyawan senior memiliki waktu terbatas untuk berkembang (pensiun), karyawan junior memiliki kesempatan berkembang yang lebih luas.
  3. Karyawan senior memiliki kematangan emosi yang stabil, sehingga pengendalian diri terhadap masalah lebih terjaga, sedangkan karyawan junior biasanya belum memiliki managemen emosi yang bagus.
   Di beberapa perusahaan lain, pengem­bangan karier tidak selalu ditentukan oleh perusahaan. Tapi bisa juga oleh si karyawan. Perusahaan hanya menyediakan sejumlah dana yang diperuntukkan bagi pengembangan karir karyawan kemudian karyawan bebas memilih pengembangan karir apa yang diinginkannya. Misalnya apakah dia akan mengikuti kursus bahasa, training pengembangan pribadi, atau training kompetensi? Tentu sesuai dengan kebutuhan individu yang bersangkutan.
Bagi perusahaan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam mengembangkan karier karyawannya.
  1. Melakukan pemetaan, yaitu mengetahui secara persis apa yang dibutuhkan perusahaan saat ini dan di masa mendatang. Dengan pemetaan yang tepat, perusahaan dapat menentukan langkah yang harus dilakukan. Misalnya, kebutuhannya adalah teknologi informasi yang lebih handal. Maka bisa dilakukan up-grade teknologi informasi (IT) karyawan.
  2. Kenali Bakat dan Minat Karyawan. Ini tentu bertujuan agar pengembangan yang dilakukan kepada karyawan tidak sia-sia. Bila pengembangan bidang IT yang akan dilakukan, bisa diprioritaskan terlebih dahulu karyawan atau pegawai yang memang berbakat di bidang IT atau di divisi IT.
  3. Sesuai TREN. Ini tentu lebih baik lagi. Bila saat ini trennya adalah karyawan atau pegawai yang harus mempunyai kemampuan bahasa asing yang bagus, sementara dalam perusahaan masih banyak karyawan dengan kemampuan bahasa asing yang buruk, maka pengembangan karir bisa diarahkan mengikuti tren.
  4. Berikan Beberapa Pilihan. Karyawan tetap bertanggung jawab sepenuhnya bagi perkembangan kariernya. Perusahaan bisa menawar­kan pilihan kepada karyawan untuk dipertimbangkan, bukan memerintahkannya untuk mengikuti pilihan tertentu. Hal ini penting, meski kadang sulit.
  5. Kerjasama. Merancang sebuah tindakan bersama untuk perusahaan sekaligus untuk karyawan. Dengan cara, penyusunan bersama sebuah rencana aksi akan meningkatkan komitmen kedua belah pihak terhadap rencana tersebut.
   Manajemen dapat membantu karyawan mengenali hambatan untuk setiap jalur, dan diskusikan cara-cara mengatasi hambatan tersebut. Memang selama ini satu-satunya arah perkembangan karier yang banyak dikenal orang adalah naik ke atas (promosi). Padahal sebenarnya masih banyak  cara lain yang bisa dipertimbangkan karyawan dalam meniti karier. Misalnya, apa yang dinamakan pindah secara lateral atau mutasi, semisal dari departemen satu kedepartemen lainya. Dalam keadaan ini, karyawan melakukan sebuah perubahan dalam pekerjaan, tetapi tidak harus selalu menuntut perubahan dalam level tanggung jawab.
Selain itu, melakukan eksplorasi pekerjaan dan pengayaan. Langkah ini perlu dilakukan karyawan agar lebih banyak kesempatan untuk belajar dan berkembang. Hal lain yang bisa dilakukan karyawan adalah melakukan penataan ulang atau menyesuaikan pekerjaan dengan prioritas lain, atau menyiapkan karyawan untuk bagian lain. Maka itulah pentingnya ada Job Deskription.
   

   Pengembangan karir oleh perusahaan tidak akan berjalan sukses tanpa diikuti keinginan yang kuat dalam diri individu untuk terus berkembang. Karenanya karyawan harus melakukan beberapa hal seperti selalu melakukan evaluasi diri khususnya yang menyangkut faktor-faktor intrinsik personal yang memengaruhi kinerja. Tujuannya karyawan akan mampu mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya khususnya tentang kematangan emosinya misalnya.
Selain itu, individu juga dituntut untuk sadar diri. Misalnya menambah pengetahuan tentang pekerjaannya ataupun yang berhubungan dengan pekerjaannya. Misalnya dengan banyak membaca dan belajar.
   Kompetensi inti juga perlu terus dijaga keberadaannya. Kompetensi ini barangkali yang membedakan seseorang berbeda dengan karyawan lainnya. Ini sebaiknya harus jadi area untuk lebih bekerja keras untuk menjadi yang terbaik. Kompetensi inti juga perlu diperbaharui dengan perkembangan teknologi dan kompetisi agar tidak ketinggalan.
Lalu, perlukah road map pengem­bangan karier individu? Tentu perlu. Bagi karyawan, membuat rencana umum pengembangan karier individu untuk selama siklus kehidupan sebagai pekerja, banyak manfaatnya. Misalnya apa saja output karir yang diharapkan dalam kurun waktu tertentu dan apa langkah-langkah yang harus dilakukan.
Dalam teori manajemen SDM, karir tidak semata-mata diposisikan sebagai hak individu karyawan tetapi merupakan hak perusahaan juga. Artinya dengan jenjang karir yang baik dan karyawan yang berprestasi, diharapkan perusahaan juga akan mendapatkan manfaat lebih. Misalnya, profit yang lebih baik.
Karena adanya kepentingan bersama tersebut, kedua belah pihak harus bahu membahu untuk menciptakan sistem pengembangan karier yang tepat. Karyawan diuntungkan dengan karier yang jelas, dan perusahaan akan mendapatkan manfaat yang luar biasa dengan produktivitas karyawan yang meningkat. Bila ini sudah mampu diwujudkan, karyawan yang loyal dan berdedikasi, tidak lagi sulit diperoleh perusahaan. Sudah siapkah Anda sebagai karyawan menyongsong pengembangan karir yang lebih baik? .......................(ABU MAJID)

Kamis, 29 Desember 2011

Mutasi Part 3

Agar Tak Menyesal Pindah Kerja

Oleh : Abu Majid
   Agak ragu ketika saya ingin membuat tulisan kecil ini, persepsi orang tentu berbeda-beda dalam menyimpulkan sebuah tulisan. Karena saya adalah salah satu karyawan yang pernah mutasi dari Pabrik ke non Pabrik, maka saya dapat merasakan perbedaan antara atmosfir di lingkungan Pabrik dan di luar Pabrik. Secara keseluruhan tak ada bedanya, dalam artian semua ada plus minusnya. Ada nilai tambah disatu sisi dan ada pengurangan disisi lainya. Tetapi ketika kita melihat lebih kepada sisi kontribusi kita sebagai karyawan tentu semua memang menjadi tak ada bedanya, semua karyawan yang pernah mutasi tetap berkarya untuk Pupuk Kaltim. Semua tergantung cara pandang masing-masing individu, apakah melihat dari sisi finansial, kepuasan atau lainya. Oleh karena itu, Sebelum anda mengatakan “Ya” untuk pindah dari satu bidang pekerjaan ke bidang lainya, pastikan terlebih dulu apa sebenarnya yang memotivasi anda untuk pindah, apakah Anda benar-benar menginginkan pekerjaan yang berbeda tersebut atau tidak. Jangan hanya karena pemikiran sesaat. Caranya, lakukan analisis kecil-kecilan terhadap jenis pekerjaan Anda sekarang dan analisis juga pekerjaan di tempat anda yang baru kelak. Apa saja yang harus Anda analisis?

1.  “Keuntungan”
      Tak dipungkiri, untuk kita yang sudah tak muda lagi berpindah pekerjaan sifatnya bukan lagi taraf coba-coba, semua harus dengan pertimbangan jauh matang dan memandang jauh kedepan. “ keuntungan” tidak selalu identik dengan penghasilan alias gaji. Besar kecilnya gaji di Pupuk Kaltim sudah ada aturan tersendiri. Perhatikan “keuntungan” apa saja yang akan didapat jika bekerja di tempat kerja baru. Mulailah dengan menganalisis seberapa cocok pekerjaan anda yang baru dengan jiwa anda. Pikirkan waktu untuk kebersamaan dengan keluarga. Apakah kemungkinan berkembang lebih terbuka atau sebaliknya
Selain itu, Anda juga harus mempertimbangkan sistem dan aturan yang bersifat spesifik ditempat kerja baru dan alat-alat yang Anda dapatkan untuk menunjang pekerjaan.

2.  Lokasi dan transportasi
     Perhatikan lokasi tempat kerja baru. Terutama bagi anda yang berkeinginan mutasi ke kantor perwakilan, bandingkanlah biaya transportasi pulang pergi dari tempat tinggal yang sudah anda miliki dengan kemungkinan Anda dapat mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan harga murah.
   Jika tidak ada kemungkinan Anda untuk mendapatkan tempat tinggal yang lebih dekat, hitunglah biaya yang Anda keluarkan untuk transportasi. Pastikan biaya tersebut masih dapat ditutupi dengan gaji dan konpensasi kepindahan anda. Pastikan juga Anda termasuk orang yang tidak mudah mengeluh akibat kondisi jalan yang macet, karena stres di pagi hari akibat kemacetan jalan dapat mempengaruhi mood bekerja. Selain itu, hitunglah berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk pergi dan pulang dari kantor.

3. Kesempatan berkembang
    Tidak ada seorang pun yang mau hanya berujung pada satu posisi dan tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kualitas hidupnya, seperti telah saya singgung pada point 1. Jadi, jangan sungkan untuk menanyakan pada interviewer Anda, apakah pekerjaan yang akan anda tekuni memiliki kesempatan yang besar untuk mengembangkan potensi diri dan kesempatan untuk naik jabatan.

4.  Lingkungan kerja
     Anda akan bekerja selama 9 jam selama 5 hari setiap minggu, hari sabtu dan minggu anda wajib masuk kantor jika diperlukan atau bahkan suatu ketika anda harus lembur sampai pagi. Itu berarti Anda menghabiskan hampir seluruh waktu Anda di kantor. Karena itulah, ada baiknya pastikan apakah lingkungan kerja di kantor baru cocok dengan Anda. Lihatlah lingkungan kerja dari dress code, budaya kerja (menuntut kerja cepat atau dapat dilakukan dengan santai, hirarki atau lebih demokratis), apakah visi dan misi perusahaan cocok dengan Anda, kekeluargaan, kerja tim atau individu.
    Pasti akan sulit mengetahui lingkungan kerja dari interview yang sifatnya sangat formal. Namun, Anda dapat menanyakan pengalaman kerja pada pekerja yang sudah terlebih dahulu “duduk” disana sebelum anda benar-benar di tempat  kerja tersebut.

5. Keamanan kerja
    Sebagai pekerja sangatlah penting untuk mengetahui sistem keamanan ditempat kita bekerja. Ya meskipun di Pupuk kaltim resiko kerja seolah hanya di bagi dua, Pabrik dan Non Pabrik, tetapi tetap saja sebagai manusia yang akan menjadi tua, anda patut memperhitungkan resiko dari pekerjaan anda.
 6. Di mana Anda akan berada sepuluh tahun mendatang?
     Jika semua telah Anda analisa, waktunya bertanya pada diri Anda sendiri. Apa yang Anda ingin capai sepuluh atau duapuluh tahun mendatang? Memang terdengar klise, namun ini penting untuk mengetahui apakah pekerjaan yang ditawarkan dapat membawa Anda pada tujuan hidup Anda. Inilah kesimpulan dari kelima point diatas.

    Nah sobat, jika semua sudah cocok, maka saatnya anda maju. Anda akan mencintai pekerjaan baru ini dan akan lebih mudah mencapai apa yang anda inginkan........ (Abu Majid)

Rabu, 28 Desember 2011

Mutasi ( Part 2 )

Yakin Mau Pindah Kerja ?, Pikirkan…?
( Dari Obrolan ringan dengan Teman baik saya )
Oleh : Abu Majid
  
   “Bosen rasanya 15 tahun  disini begini-begini saja, enak ya sampeyan kerja di’luar’, resikonya kecil dan enggak bising …”, begitu beberapa teman pernah berkata pada saya. Saya hanya tersenyum saja, agak heran juga mengapa orang yang sudah bekerja 15 tahun masih ‘takut’ resiko, bukankah resiko dapat diatasi jika kita benar-benar menguasai seluk beluk pekerjaan kita ?. Dan Pupuk Kaltim sebagai Pabrik Agro Kimia adalah satu perusahaan besar yang sangat-sangat konsen terhadap resiko pekerjaan, sehingga tunjangan resiko begitu menjadi perhatian para managemen.

  Tak ada suatu hal pun di dunia ini yang sempurna. Kita semua tahu itu. Setiap hal pasti ada positif dan negatifnya. Begitu pun tentang pekerjaan. Ketika seseorang mendiskusikan tentang kantor atau perusahaan tempatnya bekerja, kata "benci", "kecewa", dan setipenya seringkali terlontar. Padahal, asal diketahui, label semacam itu adalah label yang sangat kuat. Jika kata benci sudah melekat di kepala anda maka sangat sulit untuk menghapusnya.

Dari obrolan ringan dengan teman baik saya di SDM beberapa saat lalu, terpikir oleh saya untuk membuat tulisan singkat ini. Sore itu kami ngobrol, diskusi mengenai berbagai hal. Saya merasa sangat beruntung sekali karena disela-sela kesibukan yang luar biasa sahabat saya itu masih menyempatkan waktu untuk ‘sekedar’ ngobrol dengan saya. Dari berbagai topik obrolan, sayapun sempat menyinggung tentang kebutuhan karyawan dan mutasi karyawan yang beberapa saat terakhir santer terdengar dilingkungan teman-teman produksi.
” Saya selalu meyakinkan kembali pada karyawan yang mengajukan pindah, apakah keinginan pindah benar-benar dari hati, ingin mengembangkan potensi diri atau karena berbagai hal yang bersifat sesaat saja, misalnya ada masalah dengan atasan, dengan rekan kerja dan sebagainya” begitu kata sahabat tsb.” Pak Ratman berminat pindah ke SDM ?” katanya tiba-tiba. Sayapun sempat kaget dengan pertanyaan tersebut. ” Wah..Saya sama sekali tidak berminat Pak, kalaupun saya berminat, saya akan minta pindah nanti ketika Bapak sudah pensiun saja” gurau saya. Beliaupun ikut tertawa mendengar jawaban saya.. ” Seorang karyawan itu modal utamanya adalah menyukai,mencintai pekerjaannya” kata beliau kemudian. Mencintai pekerjaan ?. saya mengernyitkan dahi. “Ya memang, selama kita tidak menyukai pekerjaan kita, maka kita hanya akan membuang waktu percuma. Bekerja tidak dengan ‘hati’ hanya akan sia-sia belaka” jelasnya seolah tahu apa yang ada dalam pikiran saya.

    Seseorang bisa membenci pekerjaannya karena banyak alasan, dan masing-masing individu akan sangat berbeda dalam menghadapinya. Jika Anda mendapati diri Anda mengeluhkan tentang pekerjaan, cobalah berhenti sejenak dan tanyakan lagi kepada diri Anda, apakah Anda benar-benar ‘membenci’ pekerjaannya atau ada yang bisa Anda lakukan untuk memperbaikinya tapi belum terlaksana?

Banyak hal yang menyebabkan seorang karyawan berkeinginan untuk pindah kerja. Jika kita perhatikan dari perbincangan dengan rekan-rekan kita, baik yang di Pupuk Kaltim, diluar bahkan teman-teman sekolah kita yang bekerja di perusahaan asing, rata-rata keluhanya hampir sama. Saya dapat mengambil kesimpulan bahwa setidaknya ada 7 alasan umum yang membuat seseorang bisa melontarkan kata "benci" kepada pekerjaannya dan tawaran solusi yang bisa membantu meredakannya.

1. Terlalu (brilian, berpengalaman, inovatif untuk bekerja di sini )
    Diakui atau tidak sebenarnya memang banyak rekan-rekan yang memiliki potensi besar, tetapi kurang bisa ter-explore. Mungkin anda adalah salah satu dari karyawan yang  merasa diri Anda memiliki kualitas bagus, namun tempat kerja kurang bisa jadi saluran yang tepat untuk kemampuan Anda. Jika Anda memang bisa melakukan pekerjaan yang lebih menantang atau memiliki tanggung jawab lebih, jangan berhenti mencarinya. Di lain pihak, jangan sampai hal itu menyurutkan upaya terbaik Anda untuk melakukan hal yang terbaik, karena Anda masih butuh rekomendasi dan jangan sampai mendapatkan kesan kurang baik dari lingkungan kerja anda, buktikan saja bahwa anda mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan sebenarnya setingkat diatas level anda. Namun anda tak perlu menawarkan diri untuk melakukan tugas di luar tanggung jawab Anda yang sekarang agar tidak terkesan ‘sok tahu’. Keuntungan lainya, waktu Anda di perusahaan akan terasa lebih cepat berlalu jika Anda mulai mencoba melakukan hal di luar rutinitas, sehingga anda tidak merasa jenuh.

2. Tak ada yang menganggap penting keberadaannya
    Patut disayangkan, terkadang potensi yang besar pada diri seseorang tidak terlihat oleh atasan, sehingga seorang karyawan yang seharusnya sudah bisa menghandle pekerjaan lain masih dipertahankan di salah satu Job hingga bertahun-tahun lamanya. Jika bakat, upaya, dan waktu Anda tersia-sia, Anda berhak untuk sebuah perubahan. Jika Anda memiliki kesempatan untuk bicara empat mata dengan bos Anda, entah itu untuk evaluasi hasil kerja atau sebuah diskusi yang terencana, cobalah jelaskan bahwa Anda khawatir Anda tak bisa menjalankan pekerjaan lebih baik atau bahkan terjadi penurunan pada komitmen anda di perusahaan, karena anda merasa sudah sangat familiar dengan tugas-tugas anda yang sekarang. lalu berikan contoh hasil kontribusi yang mungkin bisa Anda lakukan. Ketika Anda membingkai isu sebagai masalah profesional, ilustrasikan pula bagaimana perusahaan bisa melihat bahwa apa yang Anda kerjakan itu cukup penting, asal tetap buat pembicaraan berkisar pada topik untuk pengembangan perusahaan, ketimbang keluhan Anda. Semestinya tak ada perusahaan yang mengeluarkan promosi atau kenaikan grade, atau gaji  hanya karena mereka pikir “sudah waktunya”, misalnya usulan kenaikan grade karena sudah empat atau lima tahunan. Semestinya pula, Perusahaan merespon pada hasil, bukan berdasarkan kalender. Assesman seharusnya ber-orientasi pada kualitas dan kemampuan serta lowongan, bukan mengacu pada masa kerja.

3. Gaji tak sesuai Standar Pekerjaan
    Hati-hati berbicara “gaji”, tak perlu membandingkan gaji kita dengan rekan-rekan lain.Karena ada aturan pula dimasing-masing departemen. Ada departemen yang banyak melemburkan karyawan tapi ada pula sebaliknya, lemburan sangat minim. Bukankah inipun akan membedakan pendapatan kita ?. Seperti halnya saya, tentu saja gaji saya jauh dibawah rekan-rekan saya yang kerja shift, tetapi ini khan memang konskwensi dari sebuah pilihan ?. Jika anda termasuk yang suka ‘meributkan’ masalah gaji, hal ini bisa jadi  berarti Anda tak sabar untuk mendapatkan kenaikan gaji. Meski sebenarnya, adalah hal yang lumrah untuk seseorang berpikir bahwa ia tidak memiliki gaji yang cukup. Untuk bisa mengetahui apakah hasil kerja Anda selama ini sudah diganjar dengan pendapatan yang pas dengan hasil yang didapat orang di luar perusahaan ini yang memiliki titel dan jabatan yang sama?. Cari tahu, jika memang benar gaji Anda di bawah standar, cobalah untuk mendiskusikan kembali hal ini kepada atasan Anda atau mengusulkan agar Serikat pekerja melakukan riset diperusahaan se-type. Tapi ingat, tak semua perusahaan memiliki kebijakan yang sama untuk membayar tenaga-tenaga kerjanya sesuai standar kita. Andalah yang bisa mengukur antara kesetiaan, kebutuhan, dan kepuasan kerja.

4. Sudah tidak Perduli pada pekerjaan
    Apakah Anda benar-benar menyukai pekerjaan yang Anda lakukan ini? Jika Anda melakoni profesi yang sekarang hanya karena bisa dengan pekerjaan ini anda dapat memenuhi kebutuhan hidup anda, bisa jadi Anda tak benar-benar menyukainya. Anda akan mudah terpengaruh dengan iming-iming gaji yang lebih besar di tempat lain. Namun, jika Anda mengambil pekerjaan ini karena nilai lain yang terkandung, misal, kemungkinan untuk mengasah bakat, belajar hal baru, berinteraksi dengan banyak orang, maka kemungkinan Anda perlu mengingatkan diri Anda akan hal-hal tersebut. Apakah posisi lain di perusahaan yang sama atau di tempat lain bisa memenuhi kebutuhan Anda dalam cara yang berbeda dari perusahaan ini?. Jika Anda tahu bahwa ada kesempatan lain yang lebih cocok untuk Anda, carilah kesempatan itu. Sangat terkait dengan point 1 dan 2 diatas. Jika Anda sudah tiba di titik comfort zone, Loyalitas, output dari pekerjaan Anda akan cenderung menurun, atasan Anda tidak senang, dan Anda hanya menghabiskan waktu diri sendiri, juga merugikan perusahaan. Perusahaan seakan hanya mengelola asset yang menghabiskan biaya saja.

5. Tidak suka dengan Atasan
   Hati-hati dengan statement yang ada dikepala anda. Anda dan atasan mesti bertemu empat mata. Apa pasal ?, menghadap bos adalah untuk mengetahui apa yang bisa Anda ubah dan mengetahui apa ada yang salah diantara anda, atasan dan peraturan yang berlaku. Hal yang perlu anda ketahui adalah type bos anda. Dan anda pun harus tahu bahwa middle manager dengan top manager biasanya berbeda typikalnya. Misal, seorang Foremen atau kepala bagian bisa jadi lebih reseptif kepada kebutuhan Anda untuk sebuah kebebasan jika Anda duduk bersamanya dan membicarakan hal tersebut. meskipun Anda tak bisa berekspektasi bahwa seseorang akan berubah 180 derajat hanya untuk memuaskan kemauan Anda. Sadarilah bahwa beberapa tipe manager akan mau mendengarkan Anda dan mengubah suasana kantor untuk menciptakan suasana yang lebih baik. Sebagian lainnya tak bisa mengubah gaya mereka seperti Anda sulit mengubah kebiasaan Anda. Karenanya, Anda harus menghitung dan memperkirakan kompromi semacam apa yang bisa Anda lakukan. Tapi Introspeksi diri sangat-sangat penting anda lakukan. Jika si bos tak pernah bisa menemukan titik tengah dengan Anda, maka sudah saatnya Anda mencari informasi untuk segera mutasi ketempat lain.

6. Bosan Dengan Rekan Kerja
    Kultur perusahaan membuat Anda gerah?. Ketidakakraban dengan rekan kerja adalah masalah yang serupa masalah dengan bos. Bahkan ini sangat vital, apalagi pekerjaan kita mengutamakan team work . Setiap saat kita berinteraksi dengan rekan kerja kita. Untuk hal ini, Anda harus mau mencoba mengalah sedikit. Kadang, obrolan ringan sekilas saja bisa meredakan ketegangan, namun ada waktu-waktu tertentu perbedaan tidak bisa ditengahi. Jika Anda mencintai pekerjaan Anda, Anda bisa mencoba melepaskan diri dari situasi rekan kerja yang menyebabkan Anda stres. Mungkin masalahnya bukan karena mereka yang berubah, tapi karena Anda yang sudah bertumbuh, dan hal-hal yang biasa Anda lakukan bersama teman-teman sekarang menjadi kegiatan yang menjemukan. Terimalah fakta bahwa bisa jadi Anda yang berubah dan menjauh dari teman-teman kerja, lalu putuskan apa yang bisa Anda lakukan untuk menghadapinya.

7. Masalah Kesehatan
    Kesehatan menjadi factor utama seseorang dalam beraktivitas, seseorang yang mengalami gangguan pada kesehatan pisiknya akan mengalami kendala dalam berbagai hal. Jika seorang karyawan mengalami hal ini maka managemen harus segera mencari solusi dengan cara menempatkan si karyawan pada unit kerja yang memungkinkan untuk si karyawan tetap beraktifitas, tetap mempunyai kontribusi yang memadai kepada perusahaan. Jika tidak segera tertangani bukan mustahil si karyawan akan depresi, Ditempat kerja ia merasa tak mampu bekerja dengan maximal, merasa tidak enak dengan rekan-rekan lain. Dan secara jujur ia akan mengakui bahwa dimasa depan tentu ia tak akan mampu bersaing dengan rekan-rekan yang tidak mengalami kendala kesehatan.
Dari sisi karyawan bersangkutan, ia dituntut untuk segera menggali potensi-potensi dirinya dibidang lain sehingga ketika ia harus mutasi, ia sudah memiliki bekal yang memadai diunit kerja yang baru. Celakanya, kebanyakan karyawan tidak menyadari hal itu, sehingga ketika ia pada akhirnya ditempatkan di unit kerja yang tak sesuai potensinya, maka kembali sikaryawan akan mengalami kendala, susah beradaptasi dengan ilmu baru yang mau-tidak mau harus ia jalani. Tetapi apabila si karyawan sudah mengetahui potensi dirinya, maka ia dapat mengajukan pilihan dengan menjelaskan potensi yang sudah ia miliki. Sehingga ia akan dapat berkontribusi yang memadai pada perusahaan.

    Rekan-rekan, sahabat  Karyawan pupuk Kaltim yang saya cintai. Diatas hanya sekedar intremezo yang barangkali bisa menambah wawasan kita. Setiap anda ingin melakukan perubahan, jangan lupa Introspeksi Diri, perhatikan bahwa ego seseorang sangat jauh berbeda dengan orang lain, begitupula dengan anda. Jika keinginan anda murni karena ingin perubahan, ingin berkembang dan berbagai hal positif lainya, Go ahead….maju terus and GOOD LUCK………………( Abu Majid )

Selasa, 13 Desember 2011

Managing People


 Mengelola Hubungan Kerja dengan Atasan Anda
Oleh : Abu Majid
    Pergantian atasan, baik setingkat Direktur, Kakom, Kadept atau Kabag diperusahaan kita Pupuk Kaltim ini adalah sesuatu hal yang jamak terjadi. Ada saja rekan kita yang mendapat isyu lebih dulu daripada kita. Baru sekedar isyu saja tak jarang kita sudah mulai berpolemik, bermain prasangka dengan “katanya” .” Wah Dia itu orang hebat lho, ‘katanya’ begini dan begitu” atau sebaliknya jika sebelumnya, kita pernah mendapat kabar burung bahwa atasan yang baru itu bukanlah seorang yang bersahabat, maka kitapun sudah berani ‘memprovokasi’ pikiran rekan-rekan kita. Jika toch ‘prasangka’ buruk kita itu ternyata itu benar, tentu sebagai bawahan tak ada yang bisa kita lakukan kecuali menerimanya.

Dalam dunia kerja, banyak orang berpendapat bahwa mengelola karyawan (managing people), hanyalah tugas para punggawa SDM, hanyalah ditujukan bagi atasan terhadap bawahannya. Tidak banyak orang yang menyadari bahwa hubungan kerja dengan atasan juga perlu bahkan wajib dikelola oleh bawahan. Mengelola hubungan kerja dengan atasan serupa dengan mengelola hubungan dengan pelanggan anda. Kedua hal tersebut berkaitan dengan pengelolaan manusia dan hubungan baik. Bagaimana mungkin anda berharap atasan anda sebagai ‘pendatang baru’ langsung mengetahui seluk beluk di tempat kerja barunya. Tentunya anda yang berkewajiban menginformasikan padanya.Tidak banyak orang yang menyadari pentingnya memiliki hubungan baik dengan atasan. Prinsip hidup yang selalu dipesankan orangtua, khususnya orang jawa adalah bersikap “Lembah manah” atau bisa diartikan rendah hati,santun, Hormat pada yang tua dan menghargai pada yang muda. Prinsip ini harus kita terapkan pada situasi dan kondisi apapun, dimanapun  dan pada siapapun. Seperti kata seorang mentoring Jamil Azaini dari lembaga KUBIK, yang mengumpamakan “ Ketika kita melempar batu ke atas maka batu itu akan turun dan menimpa kita, begitu pula kalau yang kita lempar adalah sepotong roti maka roti itupun akan kembali pada kita”.

   Pentingnya mengelola hubungan baik dengan atasan kita sangat erat kaitanya dengan karier dan masa depan kita. Tak perlu takut di ‘cap’ kurang baik oleh rekan-rekan anda. Selama kedekatan anda dengan atasan didasari ketulusan dan niatan baik sebatas hubungan kerja ( bukan ‘cari muka’ ), maka selamanya akan menguntungkan anda dan atasan anda. Perlu di ingat bahwa atasan atau para boss adalah manusia biasa, mereka bukanlah paranormal yang dalam istilah jawa “Mangerti sak durunge Winarah”. Jadi bagaimana mungkin atasan anda tahu dengan pasti masalah anda jika tidak ada komunikasi. Bagaimana mungkin anda berharap atasan tahu sendiri permasalahan anda tanpa anda mengungkapkanya. Boss anda adalah orang yang sibuk memikirkan permasalahan yang komplek.Namun, meski demikian sebagai boss yang baik, seorang atasan harus menyadari benar bahwa Ia dipercaya menduduki jabatanya karena memang dianggap mampu, baik dari segi skill pekerjaan maupun skill dalam managing para bawahanya. Jadi sebagaimana saya tulis berkali-kali dalam artikel-artikel saya sebelumnya, seorang Boss yang bijak harus lah dapat membaca situasi dilingkungan yang dikelolanya, Ia harus dapat membaca riak-riak kecil yang ada, jangan sampai riak itu menjadi gelombang yang akan menghantam dirinya sendiri.
Sudah pasti, seorang atasan memainkan peranan yang sangat penting pada kemajuan karier seseorang. Bagi bawahan, atasannya ialah orang yang merekomendasikan kenaikan gaji dan promosi.

   Seorang boss yang masih berorentasi pada jaman dulu, maka akan berprinsip Jabatan sama dengan kekuasaan. Sudah seharusnya prinsip tersebut dibuang jauh-jauh. Seorang atasan seharusnya lebih mampu mengelola  emosi dan bukan harga diri, sehingga ketika ada konflik dengan bawahan, seorang atasan dapat merunut dari awal akar permasalahannya dan mencari pemecahanya, bukan sebaliknya mengatasnamakan jabatan dan buru-buru ‘mencap’ bawahan dengan stempel ‘pembangkang’.
   Pada sisi lain, hubungan atasan-bawahan yang tegang menyebabkan suasana kerja yang tidak sejahtera dan kesempatan pengembangan karier menjadi terhambat terutama bagi bawahan. Jadi, bagaimanakah caranya membangun hubungan atasan-bawahan yang saling menguntungkan ? Cobalah anda mulai dari beberapa langkah dasar dibawah ini:

1. Selesaikan Pekerjaan dengan Baik dan Patuhi Peraturan
Bekerjalah dengan cerdas dan selesaikan pekerjaanmu dengan baik. Tunjukkan inisiatif yang tinggi dan terbukalah merima tanggung-jawab anda. Penting untuk mengenali dengan baik perusahaan anda dan patuhi kebijakan-kebijakan perusahaan. Bagi karyawan non shift, pastikan bahwa pada jam kerja anda tidak akan keluar kantor (tanpa alasan jelas dan masuk akal serta selain untuk urusan kerja). Boleh saja sesekali anda keluar kantor untuk urusan keluarga yang teramat penting. Bagi anda yang kerja shift, pasti anda harus patuh pada aturan yang mengatakan bahwa kerja shift adalah mengutamakan team work, Terbukti bahwa orang yang ber IQ diatas rata-rata itu seringkali memiliki ide-ide yang cemerlang, tetapi dalam kerja team orang-orang ‘jenius’ ini juga sering dianggap sebagai individu yang ‘susah diatur’. Jadi, meski anda termasuk orang jenius kendalikan diri anda, berhati-hatilah dalam memberi masukan pada rekan dan atasan anda. Jangan memaksakan kehendak sebelum anda mampu meyakinkan ide-ide anda tsb.maka awali dengan menjaga hubungan baik dengan sesama karyawan.

2. Pahami Cara Kerja Atasan Anda
Penting memahami cara kerja atasan anda. Cari tahu apakah atasan menekankan pada aspek praktis atau pada nilai-nilai yang mendalam secara detil. Bekerjalah dengan cerdas dan selesaikan tugasmu sesuai arahan atasan anda. Apabila atasan anda menyukai hal-hal yang sederhana dan praktis, jangan berikan ia hal-hal yang mendetil. Jangan memberi penjelasan yang kurang perlu. Karena dalam jangka panjang anda sendiri yang akan semakin frustasi dengan cara kerja anda sendiri. Kemudian, cari tahu apa harapannya terhadap anda. Berkomunikasilah dengan atasan anda secara kontinue dan mintalah umpan-balik jika diperlukan. Memenuhi tujuan-tujuan yang diharapkan atasan itu terbukti sangat penting.

3. Bekerjalah Sebagai Bagian dari Perusahaan ( Employee Engagement )Bagaimana kinerja departemen anda tercermin pada atasan dan juga bawahan. Ketika departemen anda bekerja-sama, kredibilitas seluruh personnelnya meningkat. Bersikaplah professional dan pikirkanlah departemen sebagai satu kesatuan. Bekerja-sama-lah dengan rekan sekerja anda dan berkembanglah sebagai kesatuan. Tak jauh beda dengan para pekerja shift, disemua lini untuk mencapai kesuksesan sebuah departemen atau perusahaan, dibutuhkan kerjasama tim dan bukan kerja perorangan saja. Dengan kerjasama tim yang baik akan menghasilkan KPI departemen yang baik pula.

4. Selesaikanlah Ketidaksepahaman yang Terjadi
Apa yang anda lakukan apabila anda tidak setuju dengan putusan atasan anda? Apakah anda akan memikirkannya terus-menerus ataukah anda akan menjalankan itu walaupun setengah hati ? Dalam menghadapi dilema seperti ini, lebih baik pikirkan langkah-langkah yang akan diambil. Anggaplah ide-ide atasan sebagai ‘ilmu baru’.Pikirkan ! Perlukah anda bersusah-payah membahas masalah yang sensitif itu. Jika tidak, barangkali lebih baik tidak perlu bersikeras membahasnya.

5. Jangan "Mengancam" Posisi Atasan Anda
Bersikaplah penuh antusias tanpa kesan mengancam posisi atasan anda. Atasan anda akan tidak suka apabila ia tahu bahwa anda mengancam posisinya dalam perusahaan. Kerjakan dengan baik semua tugas yang didelegasikan pada anda. Bekerja dengan setengah hati hanya akan merugikan anda sendiri, Ilmu anda tidak bertambah dan secara hukum Tuhanpun anda tidak akan mendapatkan pahala apa-apa dari pekerjaan yang anda lakukan.

6. Bersikaplah Jujur dan Tidak Berjanji Secara Berlebihan
Kunci dalam mengembangkan hubungan kerja yang baik ialah menempatkan anda pada posisi dimana atasan anda percaya pada kemampuan anda dan ia dapat mengandalkan ide-ide anda yang baik. Walaupun ia meyakini kemampuan anda, katakan sejujurnya apabila anda pikir anda tidak akan dapat memenuhi deadline tertentu. Berikan penjelasan dan negosiasikan deadline yang lebih realistis. Dengan cara ini, atasan anda dapat memahami kapabilitas anda lebih baik lagi. Jika anda mendapatkan masalah, dekati atasan anda dan bertanyalah padanya. Jika anda menghindari masalah itu, maka yakinlah bahwa masalah tsb tidak akan selesai dengan sendirinya.

   Buatlah atasan anda berpikir dan merasa bahwa anda adalah benar-benar bawahan yang luarbiasa. Namun, andapun harus memperhatikan hak-hak anda sebagai karyawan. Jika ternyata setelah anda bekerja selama empat atau lima tahun tanpa ada usaha atasan untuk memberikan imbal balik yang semestinya, tidak ada tanda-tanda usaha untuk meningkatan kesejahteraan anda (karier dan gaji), barangkali inilah saatnya anda mengingatkan kembali atasan anda untuk ‘membuka dan membaca’ PKB atau peraturan perusahaan yang berlaku. Apabila mengalami situasi ini, anda tahu bahwa inilah waktunya untuk memperbarui resume anda dan mulai mencari informasi kepada bagian yang terkait dengan ‘kesejahteraan’ karyawan…( Abu Majid )

Warm Regards

Sabtu, 05 November 2011

Ingin Mutasi ??

Hindari Kesalahan Saat  Anda Berencana Pindah Kerja

Oleh : Abu Majid

     Suatu hal yang wajar apabila dalam sebuah perusahaan terjadi rotasi dan mutasi intern karyawan, baik dalam satu departemen yang sama maupun antar departemen, tak terkecuali di PT.Pupuk Kaltim. Hal ini karena management pastilah mempunyai berbagai alasan dan pertimbangan untuk memajukan perusahaan. Salah satunya dengan rotasi dan mutasi karyawan. Bagaimana dengan keinginan mutasi yang datangnya dari Karyawan?. Tentu perlu dicermati dengan seksama oleh managemen jika fenomena ini yang terjadi.

     Bila anda adalah salah satu karyawan yang berkeinginan untuk mutasi, sebaiknya anda berpikir kembali, pertimbangkan masak-masak langkah anda sebelum memutuskan untuk pindah. Tak Masalah jika keinginan anda tersebut didasari dengan alasan-alasan yang kuat dan positif, yang dapat diterima oleh semua kalangan.
Tak dipungkiri bahwa setiap karyawan pastilah menginginkan suasana kerja yang nyaman, penghargaan diri yang wajar serta karier yang lancar. Sayangnya, meski dibutuhkan, perpindahan  itu juga memiliki risiko yang cukup riskan. Perlu disadari bahwa efek dari keputusan anda untuk pindah tergantung dari komitmen dan alasan yang anda miliki. Nah berikut hal- hal yang perlu diperhatikan kala seorang karyawan ingin pindah tempat kerja baru..

  1. Meninggalkan kesan “Kurang Baik”.
      Barangkali dalam pandangan rekan-rekan anda, anda adalah orang yang berdedikasi, hebat dan berkeinginan untuk maju dan memajukan perusahaan. Namun tak mudah bagi anda untuk ‘meminta’ mutasi ke tempat kerja yang baru demi mengembangkan kemampuan dan karier anda. Atasan tentu saja akan mempertahankan asset-asset berharga yang dimilikinya. Entah benar atau tidak, saya kerap kali mendengar guyonan rekan-rekan karyawan yang mengatakan, “ Jika ingin pindah maka kita harus ‘mbalelo’, kita harus ‘nyleneh’ dan seterusnya..”. Kalau demikian yang terjadi, maka ‘kesan baik’ yang selama ini melekat pada diri anda akan hilang. Bagaimana jika anda telah berbuat demikian tetapi atasan tetap mempertahankan anda?.
Sebaliknya, jika kesan ‘kurang baik’ itu berasal dari rekan-rekan anda, maka dapat dipastikan bahwa sesungguhnya permasalahan itu ada pada diri anda sendiri. Boleh jadi mungkin anda seorang yang ‘kurang’ bisa bekerja sama dengan rekan kerja anda, atau boleh jadi anda sebenarnya adalah orang yang jenius tetapi anda terkesan superior sehingga kurang disukai rekan-rekan anda. Perlu diingat bahwa dalam kerja team, kecerdasan diperlukan namun lebih diutamakan kemampuan bekerjasama yang disertai kecerdasan.
Singkat cerita mungkin anda sudah bekerja ditempat yang baru, tetapi tanpa anda sadari  rekan-rekan ditempat kerja anda yang lama masih memperbincangkan anda.

2. Tak ada alasan tepat untuk melakukan perubahan itu
     Ini adalah salah satu permasalahan yang kerap terjadi para seseorang yang punya obsesi tinggi terhadap perubahan diri.  Ya kalau anda typical orang yang suka dengan hal-hal baru mungkin tidak masalah, karena anda pasti akan berusaha keras untuk belajar lagi. Namun, Jika anda typical orang yang sering beranggapan “ dimanapun tempat kerja adalah sama”, maka  sebaiknya pikirkan masak-masak langkah Anda sebelum mengajukan pindah kerja. Perubahaan karier bukan perkara sepele. Mereka yang paling membutuhkan perubahan karier adalah mereka yang mengalami tekanan dan krisis identitas. Orang yang tak yakin dengan kemampuan sendiri. Takut akan komitmen dan kuatir tak mampu bersaing sehingga pada  akhirnya justru bisa mempersulit Anda untuk dapat menempati posisi penting.

3. Kekurangan pengetahuan dan pengalaman
    Untuk anak-anak yang baru saja lulus kuliah, mencoba berbagai tempat kerja dengan bidang yang berbeda adalah hal wajar, misalnya dari Departemen Operasi ke Departemen Pemeliharaan atau Proses engineering. Tak Masalah karena mereka masih mencari bentuk diri dan minat, serta mencari apa yang mereka mau. Dan satu catatan, mereka masih senang dengan ilmu-ilmu baru. Tetapi untuk anda yang berusia cukup matang, perpindahan tempat kerja yang benar-benar berlainan bidang, benar-benar menuntut konskwensi tinggi. Karena para boss tempat Anda melamar pasti akan memerhatikan pengalaman dan latar belakang Anda untuk mengukur kesiapan dan kegunaan Anda untuk perkembangan unit kerjanya. Salah satu langkah yang bisa Anda lakukan sebelum benar-benar pindah ke tempat kerja yang bidangnya baru untuk Anda adalah mengisi diri dengan pengetahuan sebanyak mungkin tentang bidang tersebut.

4. Karena beranggapan  di tempat kerja yang baru beban kerjanya lebih rendah.

     Salah satu hal yang memicu kejatuhan seseorang akibat perpindahan kerja adalah karena mengejar ego diri yang tinggi dan menganggap beban kerja di unit kerjanya lebih berat dibanding unit kerja lain. Padahal, seharusnya yang dikejar adalah kepuasan kerja. Kecocokan dan kenyamanan. Bayangkan, Anda telah meninggalkan rekan-rekan seangkatan anda, tiba-tiba terjadi perubahan peraturan perusahaan yang kurang menguntungkan diri anda. Apa yang terjadi, rasa sesal tak mengubah nasib anda.

5. Godaan industri yang sedang meningkat
    Point ini khusus untuk karyawan yang berkeinginan pindah perusahaan. Ada kalanya seorang karyawan mendapat iklan lowongan sebuah industri yang terkesan sungguh menggoda dan memberikan janji di masa depan yang cerah. Tetapi hal ini perlu diwaspadai, karena ketenaran instan bisa mengakibatkan kejatuhan yang cukup dalam. Jangan mudah tergoda dengan industri baru, pelajari dalam-dalam sebelum kita memngambil keputusan.

6. Fokus yang sempit
    Salah satu masalah yang sering terjadi adalah ambisi dan rasa takut akan hal yang spesifik. Karena atasan atau karena satu atau dua rekan kerja yang ‘kurang’ menyenangkan. Banyak yang memikirkan perubahan karier lupa untuk memerhatikan hal-hal lain yang sebenarnya lebih penting untuk dipikirkan. Jangan hanya terpaku pada hal-hal sempit tersebut. Sempatkan diri  untuk membuka hati dan pikiran kepada pekerjaan daripada memikirkan atasan atau rekan kerja anda. Berpikirlah positif, berdo’alah agar atasan anda segera mendapat promosi untuk menduduki jabatan baru, sehingga anda berkesempatan memiliki atasan yang lebih cocok dengan anda.

7. Terlalu berpendidikan
    Pendidikan adalah salah satu persepsi yang paling sering terjadi di dunia kerja. Menyangka bahwa setelah mendapat gelar S1, S2 sudah pasti menjanjikan kedudukan di level yang lebih tinggi  tidak selalu benar. Saat ini banyak juga yang berpendidikan menengah atau biasa tetapi mampu menduduki posisi tertinggi dalam perusahaan. Salah satu hal yang sering dilupa adalah, pengalaman seseorang di lapangan juga masuk perhitungan dan memiliki efek yang cukup besar.

8. Bergantung pada bantuan orang lain

    Rekan, pejabat kenalan adalah pihak-pihak yang dikira menjanjikan untuk bisa membantu perubahan karier. Karena merasa sudah percaya kepada pihak-pihak ini, banyak orang yang mengira ia dapat sukses ditempat kerja baru. Ini salah. Pihak-pihak tersebut mungkin bisa membantu anda, tetapi Anda tidak tahu apakah yang dibutuhkan mereka akan cukup sreg dengan Anda atau tidak. Selain meminta bantuan mereka, cobalah pula mencari sendiri lapangan pekerjaan yang sekiranya tepat untuk Anda dan kontrol nasib karier Anda dimasa depan, kenali orang-orang yang ada didalamnya, bagaimana situasi disana dan lain-lain. Jangan sampai anda justru masuk ke tempat yang orang-orang didalamnya sudah merasa jenuh.

9. Tak ada pernyataan misi
    Untuk bisa maju dan tahu apa yang dituju, Anda butuh sebuah batasan dan tujuan. Jadi, jika perubahan karier adalah hal yang Anda impikan, buat sebuah pernyataan misi. Perdetil apa yang Anda ingin capai dari langkah besar ini. Metode terbaik masih dengan mencari dan melihat peluang sebelum benar-benar terjun. Jika Anda gagal membuat rencana, sama saja Anda merencanakan kegagalan.

10. Malas memperbaiki resume
    Resume tentang diri dan pekerjaan adalah salah satu gerbang menuju perubahan karier.  Perbaiki dan perbaharui resume Anda sebelum anda memutuskan pindah. Kebanyakan orang sering tidak tahu bahwa resume yang buruk bisa mengirimkan pernyataan buruk tentang Anda. Ketika anda dipanggil untuk assessment, maka resume anda tentang visi misi untuk pindah menjadi kunci diterimanya anda ditempat kerja baru. Resume yang tidak lengkap atau jelek bisa menurunkan potensi diterimanya Anda di tempat yang Anda inginkan. Siapkan resume yang tepat guna dan tidak bertele-tele, serta tegaskan kebisaan dan pengalaman Anda. Tanpa harus memberi kesan “buruk” pada unit kerja, rekan maupun atasan anda yang lama.

11. Kontak yang sedikit
    Sebelum Anda memulai perubahan drastis itu, cobalah hubungi beberapa teman lama yang cukup dekat dengan Anda, Orang-orang yang berkompeten dibidang itu Minta waktu mereka sejenak untuk membantu Anda, karena bisa jadi mereka punya rekomendasi serta pertimbangan untuk Anda.

12. Kurang pertimbangan

   Masalahnya adalah kepercayaan diri dan sikap interpersonal. Saat Anda mencari karier baru, Anda harus memberanikan diri tentu dengan bekal pengetahuan yang cukup. Saat semua persiapan sudah mantap dan diperhitungkan, majulah dengan percaya diri bahwa Anda bisa berhasil. Tampilkan keyakinan diri  yang berwibawa. Ini adalah sikap seseorang yang ingin menjalani karier baru................( Abu Majid )

Selasa, 18 Oktober 2011

Recruitmen Karyawan ala Bill Gates

Mencari Si Jenius yang Kreatif
Editing By. Abu Majid


     Bagaimana mengetahui kemampuan seorang calon karyawan ?.  IQ memang penting, begitu pula, katanya, EQ. Di perusahaan sekelas Pupuk Kaltim, yang notabene memiliki "orang-orang" SDM handal, tentulah mempunyai methode tersendiri dalam merekrut karyawan baru. Dan tentu saja setiap Perusahaan memiliki kebijakan yang berbeda dalam hal Recruitmen tersebut.
   Microsoft misalnya, memiliki metode tersendiri dalam hal recruitment calon karyawannya. Methode ini dilakukaan oleh Orang microsoft nomor satu, Bill Gates baik sewaktu masih aktif atau setelah ia pensiun. Dibawah ini  sejumlah tip rekrutment perangkat lunak nomor satu itu. Calon karyawan manakah yang anda pilih : yang ber-IQ 140 ( jenius) atau 100-110 ( rata-rata ) ?.  Pertanyaan sederhana ini ternyata membentuk dua kubu yang bertolak belakang, tapi masing-masing memiliki argumen yg kuat.

Kelompok pertama memilih kandidat ber-IQ tinggi. Argumennya : orang cerdas akan lebih mudah menangkap inti masalah dan lebih mampu menyelesaikannya. Walhasil , mereka akan lebih produktif ketimbang yang kurang cerdas.
Bill Gates, pendiri dan pemilik Microsoft, termasuk yang mengutamakan kecerdasan . ” Hanya orang-orang tercerdas yang mendapat tempat di Microsoft,” kata Bill yang ber-IQ 140. Untuk membuktikan asumsinya, ia menunjuk fakta bahwa hingga kini Microsoft masih terdepan dalam pengembangan peranti lunak komputer.

Kelompok kedua, yang cenderung memilih kandidat ber-IQ biasa-biasa saja, juga punya argumen : "Para jenius cenderung egosentris dan sulit dipahami orang lain, sehingga kepandaiannya malah acap menjadi batu sandungan bagi diri sendiri dan orang lain".

    Di Amerika Serikat, negara yang memperkenalkan pendekatan IQ, juga tak sedikit penentang korelasi antara kecerdasan dan kesuksesan . Sebuah artikel di American Magazine terbitan 1924 dengan penuh keyakinan menyebut sukses bisnis dan kehidupan justru dibangun oleh orang-orang medioker, dan kejayaan suatu suatu perusahaan bukan disebabkan pekerjanya orang-orang brillian. Contohnya : pasukan terbaik Oliver Cromwell, panglima perang Inggris, justru terdiri dari orang-orang bodoh tapi penuh antusiasme. Jadi kunci sukses menurut kelompok ini adalah antusiasme, ketekunan dan dedikasi.
   Lewat bukunya , Emotional Intelligence ( 1995 ), Daniel Goleman , PhD menambah syarat lain : EQ ( emotional quotient ), yang berperan dalam kecerdasan emosional dan perasaan. EQ berperan pada lima wilayah utama : kemampuan memahami diri sendiri, mengelola emosi diri ( stress ), memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain ( empati), dan membina hubungan. ” Kecerdasan semata akan menjadi sia-sia bila tak diimbangi sikap mental yang sehat,” kata penulis artikel ilmiah untuk The New York Times dan mantan editor Majalah Psychology Today ini.
Dalam bernegosiasi, misalnya, orang yang mengandalkan IQ semata akan cenderung egois dan memaksakan kepentingan berdasarkan hitung-hitungan teknis. Adapun orang yang memadukan IQ dan EQ-nya bisa lebih arif , luwes , menghargai pendapat orang dan menggunakan pendekatan win to win yang memuaskan kedua belah pihak.

  Persoalannya baik IQ maupun EQ belum tentu menggambarkan kondisi sesungguhnya seorang calon pekerja. Itulah sebabnya, jika disimak lebih jauh, Bill Gates sebenarnya tak semata mengandalkan kecerdasan logika ( IQ), melainkan lebih ke Inteligensi Praktis (Practical Intelligence) : kemampuan menganalisis serta menyesuaikan diri secara cepat dan tepat dalam menghadapi situasi yang terus berkembang.


Tahukah anda, ketimbang menoleh hasil tes IQ, Gates lebih banyak mengorek kepandaian, kemampuan dan kepribadian kandidat yang diincarnya lewat observasi, wawancara mendalam dan mempelajari track record.
Berikut  cara Microsoft mencari orang-orang terbaiknya untuk membangun dan membesarkan kerajaan bisnisnya.

1. Bersikap proaktif untuk mendapatkan yang terbaik.
    Meski setiap bulan dibanjiri 120 ribu lebih lamaran, Gates dan para top eksekutif Microsoft tetap tekun mencari orang-orang terbaik di kampus-kampus terbaik, dari berkas lamaran, dan dari perusahaan pesaing . Gates bahkan pernah membeli perusahaan software demi memperoleh orang pandai yang memiliki perusahaan itu
Gates punya alasan tersendiri mengapa ia selalu mencari yang terbaik. Perkembangan yang revolusioner di bidang teknologi informasi membuat daur usia software sangat singkat. Dengan demikian, yang diperlukan bukan sekedar ahli teknik, tapi justru lebih penting – orang yang cerdas , yang mampu beradaptasi dan mempelajari ketrampilan yang dibutuhkan di masa depan.
“Microsoft bisa mengajari karyawannya segala ketrampilan yang diperlukan di bidangnya,” ujar Gates, ” tapi kami tak bisa membentuk inteligensi dan kreativitas yang harus pula sudah ada pula pada individu itu sendiri,”

2. Manfaatkan berkas aktif,
    Masukkan semua resume lamaran ke dalam komputer dengan memberi kata kuncinya, Gunakan data ini sebagai berkas aktif, sehingga sewaktu-waktu membutuhkan karyawan, anda tinggal menyeleksinya.

3. Libatkan semua pihak,
    Merekrut karyawan bukan semata tugas bagian personalia/pengemba ngan SDM. Seluruh karyawan terlebih para eksekutif senior – harus terlibat mencari orang-orang terbaik . Gates dan wakilnya pun sering turun tangan langsung mewawancarai kandidat. ” Kalau kami sendiri tak peduli, karyawan lain pun akan berpikir : mengapa saya harus peduli ? “

4. Kenali apa yang dibutuhkan.
    Agar bisa menemukan calon yang tepat, Anda harus mengetahui persis kebutuhan divisi yang mengajukan permintaan tambahan tenaga.

5. Tanyakan, apa yang paling menarik perhatian si kandidat.
     Dari jawaban-jawabannya kita bisa mengetahui penguasaan seseorang di bidang yang paling dikuasainya itu dan wawasannya. Jika ia tak menguasai bisnis yang katanya paling menarik baginya, bagaimana ia menguasai bidang lainnya ?.

6. Utamakan kemampuan penalaran .
    Gunakan pertanyaan yang bersifat brainteaser untuk menguji kemampuan penalaran dan daya analisis. Umpamanya : berapa banyak air yang mengalir melalui sungai Ciliwung setiap harinya ? Yang penting bukan benar atau salah, tapi argumen dan caranya menyolusi permasalahan yang dihadapi. Dari jawaban-jawabannya kita bisa mengetahui keluwesan seseorangserta kemampuannya mempelajari
konsep-konsep baru.

7. Jangan terlalu mengandalkan psikotes.
    Hasil tes sering hanya berupa "ya "atau "tidak" dari suatu pilihan berganda. Kita tak bisa mengetahui kreativitas seseorang dari jawaban seperti ini.

Bagi Microsoft, aset terpenting adalah gabungan isi kepala orang-orang yang ada di perusahaannya. ” Coba saja ambil 20 orang terbaik kami, pasti Microsoft tak akan menjadi perusahaan yang perlu diperhitungkan lagi,” kata Gates serius. Ini pula yang membuatnya selalu waspada dan mengevaluasi metode recruitment . Jika seseorang mengundurkan diri pada 12 bulan pertama masa kerjanya, kami perlu mencari tahu alasannya dengan seksama,” katanya. Siapa tahu ada yg salah : "Entah metode atau orangnya".

   Itulah sebabnya, jika disimak lebih jauh, Bill Gates sebenarnya tak semata mengandalkan kecerdasan logika (IQ), melainkan lebih ke Inteligensi Praktis ( practical intelligence ) : kemampuan menganalisis serta menyesuaikan diri secara cepat dan tepat dalam menghadapi situasi yang terus berkembang.(dari majalah SWA 05/XIII/28 Maret 9 April 1997)