Jumat, 10 Agustus 2012

Motivasi


“Kebahagiaan” seorang Pensiunan

Oleh : Abu Majid

   SEHARUSNYA-lah seorang karyawan yang memasuki masa pensiun akan merasa lega karena terlepas dari rutinitas yang “membelenggu”, terlepas dari doktrin waktu yang mau tidak mau, rela tidak rela harus ditaatinya selama masih menjadi karyawan. Sebagaimana kita tahu di hampir semua perusahaan, utamanya Industri, karyawan dibedakan menjadi 2 kelompok, karyawan shift dan Non shift. Bagi karyawan yang selama pengabdiannya sebagai karyawan shift pasti akan sedikit berbeda dengan karyawan non shift. Akan lebih terasa “kebebasan” itu ( Baca: Pensiun). Yang (mungkin ) sewaktu masih jadi karyawan terkadang merasa “berat” ketika habis off duty kemudian harus masuk malam ( saya juga pernah merasakan kok Pak, he….he....). atau disaat kita sudah membuat janji untuk keluarga, tiba-tiba harus lembur atau dapat panggilan call out dll. So, pensiun memang harus disambut dengan gembira bukan ?
Kembali pada judul yang saya tulis, idealnya pensiunan yang menjalani hari-harinya dengan “tidak bahagia” bisa dihitung dengan jari. Namun kenapa ya justru cerita manis seorang teman yang pensiun jarang terhembus oleh kita. Ataukah kita yang kurang perduli dengan beliau-beliau para pionir kita, kurangnya silaturahmi kita dengan mereka, ataukah karena berlakunya hukum alam “ Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang”..??.
Be Optimist sajalah, karena memasuki masa pensiun merupakan sesuatu yang alamiah, Was Born-Growt and Missing, ya khan ?. Membicarakan pensiun berarti  sudah tidak membahas mengenai Employee Engaged lagi ya, karena pada masa ini Engaged sudah tidak lagi bisa di paksakan melekat pada diri pensiunan.
Selain itu masa pensiun merupakan kebagiaan dan kebanggaan tersendiri. Masa pensiun merupakan hal yang indah dan perlu disyukuri, karena yang masih aktif belum tentu bisa mencapai pensiun karena berbagai faktor, bisa karena hukuman disiplin ( Warning), kesehatan terganggu sehingga memaksanya pensiun dini, atau telah mendahului dipanggil Yang Maha Pencipta. Dan yang tak kalah penting, pensiun merupakan kebanggaan bahwa kita sudah sempurna mengabdi pada bangsa dan negara melalui Perusahaan.
Bagi pensiunan yang sudah mapan sejak awal, maka dengan memasuki masa pensiun artinya akan lebih banyak waktu luang untuk berkumpul dengan keluarga, beristirahat, setelah bertahun tahun bekerja keras, banyak waktu untuk merenungi perjalanan hidup. Memperbaikinya jika ada yang salah. Dan juga masa pensiun bisa dikatakan menikmati hidup sekaligus menyiapkan anak cucu sebagai generasi penerus agar menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa dengan pengalaman yang dimiliki. Nggak ada salahnya toch kalau kebetulan anak-anak kita memiliki kompetensi untuk menggantikan kita diperusahaan ?, bisa dikatakan mereka meneruskan tongkat estafet yang pernah ada ditangan kita. Menurut saya, masuknya anak-anak karyawan menjadi penerus diperusahaan memberikan keuntungan tersendiri bagi perusahaan. Selain dapat mengukur kompetensinya sejak dini, pihak user juga sudah dapat membaca typicalnya. Bukankah ada pepatah “Buah jatuh takkan jauh dari pohonnya” ( kecuali pohon yang tumbuh diatas tebing dan buahnya jatuh ke jurang yang dalam..he…he…).
Bagi para pensiunan yang masih ingin tetap “bekerja” karena berbagai alasan, pengalaman selama menjadi karyawan juga dapat dijadikan sebagai modal untuk memutuskan aktifitas apa yang tepat dan cocok bagi kita untuk memilah kegiatan yang dikehendaki, seperti bisnis, kegiatan sosial masyarakat, keagamaan atau usaha lainnya.

 Seperti saya tulis dalam artikel sebelumnya, masa pensiun merupakan hal alami, semua yang bekerja akan pensiun, tak terkecuali anda dan juga saya. Satu persatu memasuki gerbang pensiun dan akan diganti oleh generasi berikutnya. Maka dari itu sudah sewajarnya kita bekerja dengan sebaik-baiknya, ikhlas, cerdas, dan penuh dedikasi. Mengutip tausiah para ustadz yang didatangkan BPUI, “Bekerja kita anggap sebagai ibadah, tentunya dengan mengikuti aturan yang ditetapkan, sehingga saat pensiun dapat berjalan dengan baik. Itulah sebabnya, walaupun masih jauh dari pensiun, kita tetap harus mempersiapkan diri jauh jauh hari,”.
Jika sudah begitu pasti kita akan mendapat penghargaan setinggi-tingginya dari perusahaan. Perusahaan akan bangga dan berterimakasih pada karyawan yang memasuki masa pensiun, atas pengabdian, dedikasi dan loyalitas selama menjalankan tugas-tugas perusahaan.
  Nah, endingnya tentu kita akan dapat menjalani pensiun dengan perasaan senang dan gembira, dapat mengirim cerita manis kepada rekan-rekan  yang barangkali merasa sedang galau menghadapi masa-masa persiapan pensiun…………(Abu Majid)

Kamis, 05 Juli 2012

Efisiensi


Efficiency Strategy  and Industrial relations employee
By. Abu Majid

    What do you think about Mr.Dahlan Iskan ?, Firm person or Wiser Person, or…Arogant Person ?. Depend of you-ya. But..The fact, He’s a fenomenal Person Lately .
By the way-any way, What does Mr.Dahlan has been troubling to some officials in this country, not except that in saving in our company, RIGHT. Do not worry-lah, needsn’t to be answered.
   Seperti pernah saya tulis pada artikel terdahulu, Pada awal berdirinya suatu Perusahaan, semua pihak (Karyawan-Perusahaan) bekerja sama bahu membahu untuk mencapai satu tujuan, yaitu membangun sebuah Brand dan mensejajarkanya dengan perusahaan lain. Pada fase inilah nampak sekali loyalty, engaged yang begitu besar dari semua individu. Beberapa dekade berlalu para karyawan baru mengambil alih tongkat estafet dari para pionir untuk meneruskan kejayaan dan mempertahankan nama besar perusahaan. Satu pertanyaan kini muncul. Masihkah loyalitas dan engaged pada diri karyawan terlihat ?.

Efficiency Strategy

Should be Efficiency make The Employee uncomfortable Working ?. Ketika mendengar kata Efisiensi, maka yang pertama muncul dibenak kita pastilah negative thinking, sesuatu yang merugikan. Namun, bagi seorang karyawan yang memiliki rasa engaged yang tinggi pada perusahaan tidaklah demikian. Bahkan mendukung dengan sepenuh hati karena menyadari bahwa efisiensi adalah salah satu strategi perusahaan dalam menekan cost dan meningkatkan kredibilitas. Dan pastilah Efisiensi digulirkan setelah melalui pemikiran-pemikiran dan pertimbangan yang matang.
 Disadari atau tidak, dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita terlena oleh sesuatu hal yang terlanjur melekat dan terlanjur kita nikmati. Hal ini menyebabkan ketergantungan sehingga ketika sesuatu tersebut terpaksa harus hilang, maka akan ada penolakan dari diri kita.
Did you visit the Discus Forum of portal Pupukkaltim and did you read the writings of some our friends about saving drinking water ?  how if the writings are read pupukkaltim pioneers. I know it’s a big problem to some friends. But..(Just on my opinion-yaa..!!), preferably a problem should  was asked with a bit  politely.

Industrial Relations Employee

Perselisihan, beda persepsi dalam menanggapi suatu kebijakan merupakan problema yang akan selalu ada dalam suatu organisasi. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa seringnya terjadi perselisihan di dalam perusahaan merupakan sesuatu yang amat mengganggu kegiatan operasional perusahaan, banyak hal yang bisa menjadi pemicu permasalahan antara karyawan dan perusahaan, dalam hal ini management sebagai pengelola Perusahaan. Untuk itu perlunya suatu proses mediasi yang dilakukan agar dapat meredam terjadinya perselisihan tersebut. Proses mediasi inilah yang kemudian disebut sebagai Hubungan Industrial. Hubungan Industrial : Hubungan antara semua pihak yang terkait atau berkepentingan atas proses produksi atau pelayanan Jasa dalam suatu Perusahaan (From Google). Kegiatan yang berkaitan dengan Hubungan Industrial di dalam sebuah Perusahaan bisa dikatakan lebih dari sekedar hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan organisasi perusahaan itu sendiri.tetapi amat komplek. Perkembangan yang berkaitan dengan Hubungan Industrial merupakan cerminan adanya perubahan-perubahan dalam sifat dasar kerja di dalam suatu masyarakat (baik dalam arti ekonomi maupun sosial) dan adanya perbedaan pandangan mengenai peraturan perundang-undangan tentang ketenagakerjaan.
Di Pupuk Kaltim dan perusahaan – perusahaan lain pada umumnya, Hubungan Industrial antara karyawan dan Perusahaan di Implementasikan melalui Serikat Pekerja sebagai wakil dari seluruh Karyawan. Tetapi tidak selalu suatu masalah harus di selesaikan melalui Serikat Pekerja. Meskipun sebenarnya kegiatan Hubungan Industrial itu dapat dijelaskan, yaitu “Meliputi sekumpulan fenomena, baik di dalam maupun diluar tempat kerja yang berkaitan dengan penetapan dan pengaturan hubungan ketenagakerjaan”.
Hal yang sebenarnya tak kalah penting adalah bahwasanya Hubungan Industrial harus dipadukan dengan bidang sosial, politik dan ekonomi, ketiganya tidak dapat dipisahkan satu sama lain atau masing-masing tidak dapat berdiri sendiri. Hubungan Industrial harus dipandang secara komprehensif, artinya tidak hanya dilihat dari peraturan kerja organisasi yang sederhana. UU Ketenagakerjaan no.13/2003 pasal 16 menyebutkan bahwa pengertian dari Hubungan Industrial adalah sistem Hubungan yang terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan  atau jasa yang terdiri dari unsur pengusaha, pekerja / buruh dan pemerintah didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan Undang-undang 1945.
Jadi, secara sederhana, pengertian mengenai Hubungan Industrial adalah sebuah sistem hubungan yang terbangun atau terbentuk antara para pelaku proses produksi barang dan atau jasa, baik internal maupun eksternal perusahaan.
Hubungan Industrial berawal dari adanya hubungan kerja yang lebih bersifat individual antara pekerja dan perusahaan. Pengaturan hak dan kewajiban pekerja diatur melalui perjanjian kerja yang bersifat perorangan. Masih ingat ketika anda mengajukan lamaran kerja ke Pupuk Kaltim ?. Ya, Perjanjian kerja ini dilakukan pada saat penerimaan karyawan, antara lain memuat syarat-syarat yang harus dipenuhi, ketentuan mengenai waktu pengangkatan, lamanya masa percobaaan, jabatan yang bersangkutan, gaji (upah), fasilitas yang tersedia, tanggungjawab, uraian tugas, dan penempatan kerja.
 Dalam satu perusahaan, Karyawan dan management / pemegang saham adalah dua pelaku utama dalam kegiatan Hubungan Industrial. Dalam Hubungan Industrial baik pihak perusahaan maupun karyawan mempunyai hak yang sama dan sah untuk melindungi hal-hal yang dianggap sebagai kepentingannya masing-masing, juga untuk mengamankan tujuan-tujuan mereka, termasuk hak untuk melakukan tekanan melalui kekuatan bersama bila dipandang perlu. Di satu sisi, karyawan dan perusahaan mempunyai kepentingan yang sama, yaitu memelihara kelangsungan hidup dan kemajuan perusahan, tetapi di sisi lain hubungan antar keduanya juga mempunyai potensi konf1ik, terutama apabila berkaitan dengan persepsi atau interpretasi yang tidak sama tentang kepentingan masing-masing pihak. Efficiency is one of them many problem in a company.
Hubungan industrial melibatkan sejumlah konsep, misalnya konsep keadilan dan kesamaan, kekuatan dan kewenangan, individualisme dan kolektivitas, hak dan kewajiban, serta integritas dan kepercayaan. So…, no worries. Tak mungkin Perusahaan membuat suatu perubahan kebijakan tanpa dasar. Karena dalam Hubungan Industrial, ada Pemerintah yang mempunyai fungsi membuat atau menyusun peraturan dan perundangan ketenagakerjaan agar hubungan antara karyawan dan perusahaan berja1an serasi dan seimbang, dilandasi oleh pengaturan hak dan kewajiban yang adil. Di samping itu jika konflik berkepanjangan, pemerintah juga berkewajiban untuk menyelesaikan secara adil perselisihan yang terjadi. Pada dasarnya, kepentingan pemerintah juga untuk menjaga kelangsungan proses produksi demi kepentingan yang lebih luas.
Tujuan akhir pengaturan Hubungan Industrial adalah untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja maupun pengusaha. Kedua tujuan ini saling berkaitan, tidak terpisah, bahkan saling mempengaruhi. Produktivitas perusahaan yang diawali dengan produktivitas kerja pekerjanya hanya mungkin terjadi jika perusahaan didukung oleh pekerja yang sejahtera atau mempunyai harapan bahwa di waktu yang akan datang kesejahteraan mereka akan lebih membaik.
Sementara itu kesejahteraan semua pihak, khususnya para pekerja, hanya mungkin dapat dipenuhi apabila didukung oleh produktivitas perusahaan pada tingkat tertentu, atau jika ada peningkatan produktivitas yang memadai, yang mengarah ke tingkat produktivitas sesuai dengan harapan perusahaan. Sebelum mampu mencapai tingkat produktivitas yang diharapkan, semua pihak yang terkait dalam proses produksi, khususnya pimpinan perusahaan, perlu secara sungguh-sungguh menciptakan kondisi kerja yang mendukung.
 Kunci utama keberhasilan menciptakan Hubungan Industrial yang aman dan dinamis adalah komunikasi. Untuk memelihara komunikasi yang baik memang tidak mudah, dan diperlukan perhatian secara khusus. Dengan terpeliharanya komunikasi yang teratur sebenarnya kedua belah pihak, karyawan dan perusahaan, akan dapat menarik manfaat besar.
Faktor penunjang utama dalam komunikasi ini adalah adanya interaksi positif antara karyawan
dan perusahaan. Interaksi semacam ini apabila dipelihara secara teratur dan berkesinambungan
akan menciptakan sa1ing pengertian dan kepercayaan. Kedua hal tersebut pada gilirannya akan merupakan faktor dominan dalam menciptakan ketenangan kerja dan loyalitas kerja karyawan.
Bagi pekerja, komunikasi yang efektif dapat dimanfaatkan untuk mengetahui secara dini dan mendalam tentang kondisi perusahaan serta prospek perusahaan di masa yang akan datang. Disamping itu, pekerja juga dapat menyampaikan berbagai pandangan mereka untuk membantu meningkatkan kinerja perusahaan. Hal semacam ini perlu ditanggapi secara positif oleh manajemen, agar sekaligus merupakan pengakuan dan penghargaan bagi para karyawan yang peduli terhadap nasib perusahaan. Sementara itu bagi manajemen atau perusahaan komunikasi pasti memiliki nilai positif. Disamping adanya keterlibatan atau partisipasi dari pekerja terhadap nasib perusahaan, manajemen juga dapat mengetahui sejak dini "denyut nadi" para karyawannya, hingga di tingkat paling bawah. Dengan demikian manajemen dapat mengambil langkah penyelesaian masalah secara dini dan dapat mencegah agar masalahnya tidak terakumulasi dan berkembang menjadi lebih besar.
Prasyarat untuk dapat membina komunikasi adalah bahwa pimpinan unit kerja atau satuan kerja,
apapun fungsinya, pada dasarnya juga adalah pimpinan sumber daya manusia di unit atau satuan
kerja yang bersangkutan. Komunikasi tidak mungkin hanya dilakukan oleh satuan kerja/pimpinan
SDM (Direktur, GM,Manager, Kabag dsb) tanpa adanya kepedulian dari semua lini yang ada di perusahaan. Oleh karena itu pembinaan SDM pada umumnya, dan khususnya Hubungan Industrial, harus menjadi kepedulian semua pimpinan di setiap tingkat.
Untuk itu, Hubungan Industrial perlu dipahami oleh semua tingkat pimpinan, bukan hanya pimpinan SDM atau personalia semata-mata agar ketenangan kerja dan ketenangan berusaha yang menjadi tujuan antara dalam menciptakan Hubungan Industrial yang aman dan dinamis dapat terwujud. Ketenangan kerja dan berusaha dapat dilihat dari adanya indikator bahwa terjadi
hubungan kerja yang dinamis antara manajemen dan pekerja atau serikat pekerja.
Hubungan Industrial selalu bersifat kolektif dan meliputi kepentingan luas. Oleh karena itu, untuk
mencapai tujuannya sarana Hubungan Industrial juga bersifat kolektif. Sarana utama hubungan
industrial dapat dibedakan menjadi dua kelompok. Pertama, pada tingkat perusahaan ialah serikat
pekerja/serikat buruh, Kesepakatan Kerja Bersama/Perjanjian Kerja Bersama, Peraturan Perusahaan, Peraturan pemerintah, pendidikan, dan mekanisme penyelesaian perselisihan
industrial. Kedua, sarana yang bersifat makro, yaitu serikat pekerja/serikat buruh, organisasi
pengusaha, lembaga kerjasama tripartit, peraturan perundang-undangan, penyelesaian perselisihan industrial, dan pengenalan Hubungan Industrial bagi masyarakat luas.
Beberapa permasalahan yang sering timbul dan memicu konflik didalam perusahaan antara pekerja dan perusahaan adalah :
1. Solidaritas terhadap sesama karyawan yang dinilai telah diperlakukan secara kurang adil oleh perusahaan;
2. Perbedaan persepsi tentang perundangan dan peraturan pemerintah;
3.Perubahan manajemen perusahaan yang dinilai tidak memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan karyawan
4.Menuntut adanya transparansi perusahaan (terutama berkaitan dengan keuntungan perusahaan yang mungkin dapat menjadi bagian pekerja/buruh dalam bentuk upah yang lebih tinggi atau peningkatan kesejahteraan);
5. Ketidaksabaran karyawan dalam menunggu hasil perundingan; atau
6. untutan-tuntutan baru lainnya yang muncul seiring dengan meningkatnya pengetahuan karyawan tentang hak-hak mereka.

Dengan demikian jika kita telah mengetahui secara jelas mengenai permasalahan-permasalahan itu, maka sudah sewajarnya para atasan selaku pengelola SDM Perusahaan sudah dapat mengantisipasi agar masalah itu tidak timbul dan kita bisa bekerja dengan tenang…………(Abu Majid)

Sabtu, 26 Mei 2012

Prilaku Karyawan


Corporate Culture (Budaya Perusahaan)
Oleh : abu Majid

   Opini mengenai Survey Budaya K3 yang sempat saya share ke webmail beberapa saat lalu ternyata menuai berbagai tanggapan dari rekan-rekan karyawan, baik karyawan baru maupun para senior. Namun saya ambil sisi positive saja bahwa dalam satu lingkungan yang sama sekalipun memang tidak bisa dipaksakan untuk melihat dengan sudut pandang yang sama.
Corporate Culture atau Budaya Perusahaan dewasa ini  menjadi obyek utama dalam menilai/melihat seperti apa Management mengelola bisnis proses perusahaanya. Pada era sebelumnya para peneliti hanya menitikberatkan pada kinerja perusahaan pada umumnya. Namun ternyata Kinerja perusahaan hanya menggambarkan likuiditas, soliditas dan solvabilitas perusahaan saja.
Terkait budaya K3, saat ini baik perusahaan berskala kecil, menengah maupun perusahaan kelas dunia memandang K3 sebagai unsur vital dalam mencapi visi dan misi perusahaan. Artinya perusahaan tidak hanya mengacu pada tujuan akhir yaitu Profit atau keuntungan semata tanpa memperhatikan kenyamanan dan keamanan karyawan.
Budaya umum perusahaan memang tak bisa lepas dari budaya K3 diperusahaan. Sebagaimana yang terjadi saat ini banyak perusahaan mulai mengalami kegagalan dalam mempertahankan eksistensinya untuk terus berkompetisi dengan perusahaan lainnyat. Timbul pertanyaan bagaimana perusahaan satu bisa gagal sementara yang lainnya mampu survive padahal perusahaan tersebut bergerak pada bidang yang sama. Berkaitan dengan hal tersebut tentu ada hal yang menjadi kekuatan/keunggulan perusahaan untuk tetap survive, salah satu kekuatan dimaksud dan sulit ditiru oleh perusahaan lain adalah adanya budaya perusahaan yang dimiliki dan sangat mengakar dalam diri karyawan. Kegagalan perusahaan untuk tetap eksis sebabnya ternyata tidak hanya terkait dengan cadangan modal perusahaan, tetapi juga disebabkan oleh ketidaknyamanan karyawan yang berlarut-larut Tentu memunculkan pertanyaan sendiri mengapa dalam suatu perusahaan seringkali terjadi demo, karyawan tidak betah. Sedangkan diperusahaan lain cenderung adem-ayem saja.

Budaya perusahaan sering disederhanakan pemahamannya menjadi shared value bagi anggota organisasi mengenai apa yang terbaik bagi mareka untuk mencapai sukses. Nilai adalah persetujuan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Dalam budaya yang kuat, tersimpan persetujuan yang tinggi terhadap butir-butir nilai. Budaya yang lemah, yang berarti mempunyai derajat komitmen yang rendah dari anggota organisasi, relatif lebih mudah berubah.
Pertanyaan kini muncul dibenak kita. Sekuat apakah Corporate Culture di Perusahaan kita PT.Pupuk Kalimantan Timur ?. Dalam sebuah budaya perusahaan yang kuat hampir semua manajer menganut bersama seperangkat nilai dan metode menjalankan bisnis yang relatif konsisten. Karyawan baru mengadopsi nilai-nilai ini dengan sangat cepat. Dalam sebuah budaya seperti itu,seorang eksekutif baru bisa saja dikoreksi oleh bawahannya,selain juga oleh bosnya,jika dia melanggar norma-norma organisasi.

   Mungkin ada diantara kita yang masih belum paham, sebenarnya  apa sich yang dimaksud dengan budaya perusahaan itu?, meskipun sebagai karyawan yang patuh pada peraturan perusahaan, sebenarnya kita telah melaksanakan budaya tersebut. Banyak deskripsi mengenai budaya perusahaan itu tetapi dapat diambil sebuah kesepakatan atau kesimpulan bahwa Budaya Perusahaan mengacu kesuatu sistem makna/nilai bersama yang dianut oleh para karyawan sebuah perusahaan dan itu yang membedakan dari perusahaan-perusahaan lain. Sedangkan Nilai yang dianut bersama adalah Keyakinan dan tujuan penting yang dimiliki bersama oleh kebanyakan orang dalam kelompok,yang cenderung membentuk prilaku kelompok,dan sering bertahan lama, bahkan walaupun sudah terjadi perubahan dalam anggota kelompok (wikipedia)

   Ada beberapa riset yang dilakukan mengenai Budaya Perusahaan ini,dan yang paling baru mengemukakan bahwa ada 7 (tujuh) karakteristik primer berikut yang bersama-sama, menangkap hakikat dari sebuah Budaya Perusahaan :

1. Inovasi dan Pengambilan Resiko : Sejauh mana para karyawan didorong untuk inovatif dan mengambil resiko. GKM adalah salah satu wadah untuk mengembangkan Inovasi karyawan. Sedangkan resiko sudah dapat diminimalisir,karena Inovasi-inovasi tersebut telah melalui tahapab-tahapan ujicoba, bahkan ada yang telah diaplikasikan. Sehingga dengan perhitungan yang matang bisa dikata resiko adalah nol.

2. Perhatian pada Detil pekerjaan : sejauh mana para karyawan diharapkan memperlihatkan presisi (kecermatan) analisis dan perhatian kepada rincian atau detil pekerjaan. Pada dasarnya setiap departemen atau setiap pekerjaan memerlukan ketelitian, meskipun efek dari suatu kesalahan adalah berbeda, ada yang langsung terasa dan ada yang tidak langsung.

3. Orientasi Hasil tanpa mengabaikan proses: Sejauh mana manajemen lebih focus kepada hasil bukannya pada proses dan teknik yang digunakan untukmencapai hasil itu. Untuk suatu perusahaan yang berkelas dunia semestinya management lebih focus pada hasil bukan pada prosesnya. Tetapi terkadang yang terjadi adalah Management focus pada kecepatan produksi (hasil), tetapi disisi lain management juga mengharuskan proses yang tidak flexible. Misalkan, Management focus pada hasil produksi. Proses produksi tidak boleh terhenti, tetapi management menetapkan birokrasi pembelian bahan baku yang panjang dan berbelit.

4. Orientasi Orang : Sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan efek hasil-hasil pada orang-orang di dalam perusahaan itu.

5. Orientasi Tim : Sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan sekitar tim-tim, bukannya individu-individu. Menjadi tugas Dept.SDM untuk menekankan pentingnya Coaching pada setiap departemen, sehingga control terhadap kinerja team dapat dijalankan dengan mudah.

6. Keagresifan : Sejauh mana orang-orang itu agresif dan kompetitif dan bukannya santai-santai.

7. Kemantapan : Sejauh mana kegiatan perusahaan menekankan dipertahankannya status quo sebagai kontras dari pertumbuhan.

   Menelaah kembali budaya perusahaan Pupuk Kaltim yang 5 (Unggul, Integritas, Kebersamaan, Kepuasan Pelanggan, Tanggap). Dimana ke 5 Budaya  tersebut adalah implementasi  dari berbagai aspek yang kemudian disederhanakan sedemikian rupa, sehingga nilai-nilai yang terkandung didalamnya (seharusnya) dapat dilaksanakan dengan seksama oleh setiap karyawan PT.Pupuk Kaltim.
 Dalam praktek sehari-hari kekuatan budaya perusahaan itu berhubungan dengan kinerja meliputi tiga gagasan pokok, yaitu:

Pertama adalah penyatuan tujuan.
Dalam sebuah perusahaan dengan budaya yang kuat,karyawan cenderung berbaris mengikuti penabuh genderang yang sama. Artinya tidak ada prestasi kecil dalam suatu dunia yang penuh dengan spesialisasi dan bentuk keragaman lain.
Tanpa adanya penyatuan tujuan, dapat dibayangkan seperti apa hasil yang akan dicapai oleh 4000-an karyawan yang menghadap kea rah yang berbeda.

Kedua adalah menciptakan suatu tingkat motivasi yang luar biasa.
Kadang-kadang ditegaskan bahwa nilai-nilai dan prilaku yang dianut bersama membuat orang merasa nyaman dalam bekerja untuk sebuah perusahaan;rasa komitmen atau loyal selanjutnya dikatakan membuat orang berusaha lebih keras lagi. Melibatkan orang dalam pengambilan keputusan dan mengakui peran serta mereka merupakan contoh yang lazim.

Ketiga memberikan struktur dan kontrol yang dibutuhkan tanpa harus bersandar pada birokrasi formal yang mencekik yang dapat menekan tumbuhnya motivasi dan inovasi.

   Budaya Perusahaan merupakan sesuatu yang sangat penting dimiliki oleh sebuah perusahaan, tanpa Budaya Perusahaan percayalah, sebuah perusahaan tinggal menunggu waktu saja untuk tertinggal dan tidak mampu berkompetisi.

Minggu, 18 Maret 2012

Tak Sepaham dengan Boss

Ketika harus ‘Berseberangan’ dengan Boss
Oleh : Abu Majid
   ‘Berseberangan’ dengan Boss bukanlah suatu hal yang harus dihindari, tidak selamanya kita harus sepaham dengan Boss. So, karena dengan berbeda pendapat mengindikasikan adanya engaged, kepedulian dan konsen terhadap perusahaan. Keterikatan terhadap perusahaan, rasa ikut memiliki, loyalitas dan sejenisnya merupakan hal penting yang harus ditumbuhkan pada setiap diri karyawan.
    Boss adalah wakil perusahaan yang membawa misi dan goal-goal yang akan dicapai perusahaan, sedangkan karyawan adalah sebagai pelaksana dalam mencapai hal itu, sehingga keselarasan antara keduanya adalah hal yang wajib.
    Dalam dunia kerja, anda dituntut untuk memberikan kontribusi terbaik bagi organisasi tempat anda bekerja. Salah satu caranya adalah dengan menyumbangkan saran dan pendapat anda bagi kemajuan perusahaan. Semua pasti setuju bahwa berbeda pendapat adalah hal biasa. Karena tentu anda memiliki pendapat pribadi yang berbeda dengan pendapat rekan anda yang lain .
Tetapi bagaimana bila berbeda pendapat dengan bos atau atasan anda?  Bos maunya A sementara anda berpendapat B. Namun anda sendiripun merasa tidak enak hati bila tidak menyetujui pendapat bos. Memang selama ini yang terjadi, staf atau anak buah cenderung manut dan menyetujui pendapat atasannya.
    Psikolog dan Pelatih Eksekutif di Portland Linda Carpenter, mengatakan , “Rata-rata staf-staf di perusahaan selalu mengatakan ‘ya’ terhadap pendapat bosnya hanya untuk dianggap sebagai karyawan yang baik. Padahal, anda tidak harus selalu setuju dengan bos. Jika anda selalu setuju akibatnya justru akan fatal, anda akan kehilangan kredibilitas”.
Jangan salah, produk-produk seperti itupun banyak di perusahaan kita, Pupuk Kaltim. Sehingga ketika pada saatnya ia menduduki jabatan maka iapun akan menjalankan rytme yang sama dengan boss yang lama. Dan yang perlu diwaspadai biasanya system seperti ini ‘menggurita’ sehingga sulit ketika ada seseorang yang berniat ingin mengubahnya.
    Cara yang paling bijak menanggapi pendapat bos, berikan persetujuan anda jika anda memang setuju. Tetapi belajarlah untuk berdiplomasi jika anda berbeda pendapat dengannya. Misalnya dengan berkata, “Pada dasarnya saya setuju, tetapi….” atau " Maaf Pak, Jika diperkenankan saya mempunyai pendapat, bagaimana jika" dll. Ingat, sesungguhnya seorang bos memang merasa senang jika pendapatnya disepakati oleh anak buahnya. Karena tentu ia merasa memiliki otoritas penuh dalam mengeluarkan pendapatnya. Apalagi jika saran dan pendapatnya disertai dengan pujian dan kekaguman.
Tetapi, anda pun berhak tidak setuju. Sejauh itu, tidak ada peraturan yang memuat sanksi hukuman bagi para staf dan bawahan yang berbeda pendapat dengan atasannya. Karena mengeluarkan pendapat adalah hak asasi setiap insan di alam demokrasi ini. Namun, yang paling penting, jika anda memang tidak sependapat dengan bos, tawarkanlah ide lain sebagai solusinya, jangan asal tidak setuju. Karena bisa jadi perbedaan pendapat tersebut hanya karena beda sudut pandang atau beda wawasan saja, yang sebenarnya memiliki tujuan yang sama.
Perlu anda waspadai, jangan sekalipun melecehkan pendapat bos yang berbeda dengan anda. Siapapun tidak suka jika dilecehkan, apalagi dia seorang bos, atasan anda! Maka sekalipun anda berbeda pendapat, kemukakanlah dengan penuh sikap hormat..Jangan menampakkan sikap yang menjatuhkan wibawa boss.
Percayalah, berbeda pendapat dengan bos, tidak akan menyebabkan anda dipecat. Nah mulai sekarang, tidak perlu anda takut berbeda pendapat dengan bos. Asal anda bisa menyikapinya dengan bijak dan hormat, why not ? Toh pada akhirnya akan ada kesepakatan dalam menyikapi perbedaan tersebut.
Kemukakan pendapat anda, jangan didepan boss anda setuju tetapi ketika dibelakang anda menggerutu dan mencemarkan kehormatan boss didepan rekan-rekan anda………( Abu Majid )

Selasa, 21 Februari 2012

Life Activities after Work.....


The seven misconceptions about retired life
By. Majid’s Father

  Again and again…I must say “Sorry  brothers”, especially to my old  brothers, Mr. Atang S. and Mr. Mujiarto, who are two people of my best friends in Pupuk Kaltim.  two of some employee who retired in this year..

                                                                       A proverb says, “Expectations don't always match reality ( Harapan tak selalu sama dengan Kenyataan)”, according to a recent poll that identified several potential areas of disappointment.
    Many people are postponing their current wants to save for retirement. And perhaps retirement will bring little stress and plenty of time for hobbies and travel. But some retirees say they are not enjoying retirement as much as they thought they would.
 
A quarter of retirees think life in retirement is worse than it was before they retired, according to a recent poll of 1,254 individuals age 50 and older by NPR, the Robert Wood Johnson Foundation and the Harvard School of Public Health. And 44% of retirees think their overall quality of life is about the same as it was while they were working. Only 29% of retirees say leaving the workforce made their life better.
I'm sure, I think it’s not you….I hope you'll always enjoy with your time, with your family. and with your new activity . I hope the seven point in below - you are -
The Following is only poll in other countries, not in Indonesia……. With that in mind, here are seven misconceptions about life in retirement.
1. You will have less stress
      More than half (55%) of workers age 50 and older expect retirement to be less stressful than it was when they were working. But only 39% of retirees report having less stress in their lives than they did when employed full time. "There are some false expectations about what life in retirement is going to be like," says Gillian SteelFisher, a research scientist and the assistant director of the Harvard Opinion Research Program. "The stress may be related to a decline in health or finances." More than a third (35%) of retirees say their stress level is about the same, and almost a quarter (24%) say they now face more stress than they did while employed.
2. Travel and hobbies will fill your days
     Exploring new places is a common retirement goal, with 59% of older workers expecting to do more of that in retirement. But 34% of retirees say they currently travel to places they want to go less than they did in the past, and 35% fit in vacations about as often as they did while employed.
"There is a common expectation that this will be a time to get out and do all the things you want to do, and then we find out, in reality, not only are they not taking these exotic cruises, but they are spending less time traveling in retirement than they did in the five years before," says SteelFisher. "There may be health issues that may be making travel more difficult than they might have anticipated, and it may be that the cruise was a little bit more expensive than they anticipated."
And while 68% of people over age 50 who are not yet retired expect to have more time for sports, hobbies and volunteering, many retirees say they have the same amount (43%) or less (20%) time for activities they like.
3. You will take better care of yourself
     Almost half (48%) of older workers say they will exercise more in retirement than they do now. But just because you have more time to exercise doesn't mean you will. Some 34% of retirees say they get less exercise than they did while employed, and 41% get about the same amount. You probably won't start eating healthier in retirement either, even if you have plenty of time to cook. Most people's eating habits stayed the same in retirement (52%), and 12% of retirees say they now eat less healthfully than they did while in the workforce.
4. Your health will hold up
     "People envision that retirement will be a chance to do a lot of things that they haven't done before, and they haven't really thought about the health issues they will run into as they age," says Robert Blendon, a professor of health policy and political analysis at the Harvard School of Public Health.
Most older workers (69%) expect to maintain their current level of health in retirement. But only 43% of retirees say their health is now similar to what it was five years prior to retirement. Some 39% of retirees say their health is now worse than it was before retirement.
"As retirees start to need long-term care for themselves or their spouses, they experience stress because of the concern about what options are going to be open to them," says Risa Lavizzo-Mourey, the president and CEO of the Robert Wood Johnson Foundation. "The retirees who are experiencing more health issues than they anticipated, or having difficulty paying for things like long-term care, are feeling like retirement is not like they thought it would be."
5. You can maintain your current standard of living
     The majority of employees age 50 and older (62%) expect to be able to maintain their current standard of living in retirement. But unless you saved very diligently, you may have to make some spending cuts in retirement. More than a third (35%) of retirees say their financial ability to live comfortably is worse than it was while they were working.
"A lot of people retire and they discover that the amount they thought they would need to live comfortably is not the amount that their investments and Social Security and their house end up yielding them," says Blendon. "People are not looking forward enough in terms of the health issues they will face and the actual financial income they are really going to have."
Most retirees (63%) say you need an annual income of $50,000 or more to live comfortably in retirement, and more than a third (35%) admit they do not currently have their target level of income. Health care expenses are a major problem, with one in five survey respondents saying he or she will have trouble paying for health care. (Are you saving enough for retirement? Find out with this MSN Money calculator.)
6. You'll improve your relationship with family members
     Many current workers expect their relationship with their spouse (45%) and other family members (40%) to get better in retirement. But only just over a third of seniors report an improved relationship with a partner (34%) and other family members (35%). Most retirees say their relationship with family members (61%) and their spouse (62%) stayed the same in retirement.
7. Retirement is a choice
     We like to think that we will be able to retire when we hit a certain age or savings goal. Most current workers (60%) expect to retire at age 65 or later, often because they need the money or health benefits from their job, but also because they enjoy working and want to make a difference. But only about a quarter (26%) of retirees held on to their jobs that long. Retirees (58%) generally say they left their jobs at the same or an earlier age than they initially thought they would, perhaps due to a layoff, buyout or health problem.
    Now, the question is “ Does the training of “Purna Tugas” has been effective and enough to make the retirees to be comfortable and dignity ( Apakah pembekalan / training “Purna tugas” sudah efektif dan cukup untuk menjadikan para pensiunan Nyaman dan penuh percaya diri ) ?”………………………….( Majid’s Father / NN )

Kamis, 16 Februari 2012

Employee Again....

10 Things People Won’t (willn’t) Tell You When he Loses his Job.
By. Majid’s Father
"Brother’s….did you know about a proverb/maxim (pepatah), who reads “ Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya ( Science tie by Writing it)”.I agree, so that I post anything who I get.OK..I’m so sorry if make you’re uncomfortable".
  A friend has experienced about “ PHK” from his company. And many friends will be resign from Pupuk Kaltim in the near future. But…of course, this article not about you..!!Different.

Lately, I’m interested to read ‘n write some article about employee. When I found a friend had a problem with his job, with his boss, with his carrier,etc. I think this problem must be solved to immediately. But, I can’t do anything. So..I hope some of my writing can be a little help. Below, an anticle from a magazine about the anxiety of employees who lose their jobs.
 “The first 30 days after a job loss will no doubt (tidak diragukan lagi) be filled with fear, anxiety (resah) and impatience. You might hear experts talk about the importance of updating your resume, leaning on your network of contacts and even starting that hobby you always wanted to try.
   Ariane de Bonvoisin, author of The First 30 Days: Your Guide to Making Any Change Easier, shares some tips for coping with a job loss that people won’t necessarily tell you about.
1. Give yourself some real time to figure out your next step .
That may mean weeks, not a few hours! Don’t feel compelled to jump right back into the work force. You will feel some shock—the same way you would feel shock after any loss. Take some time to deal with that. When you are ready to jump back in, keep your options open. This might be a good time to explore a new field that you’ve always wanted to try but never had the time to, start a business, or go back to school.
2. The Next job you take may be a transitional one.
For those of you who are young, whether it’s full or part time, embrace it. Every experience is a valuable one and you never know where it may lead. It’s OK to freelance or find part-time work to get some cash flow until you find the perfect new position. In fact, you may find that you don’t need a full-time job as much as you thought you did to be happy and secure.
The problem’s, if you aren’t young age and have the burden of family.
3. Look for companies, not jobs. And change the way you apply.
Find companies with missions and values that you can get behind. Employers are much more interested in candidates who have a passion for the company than someone who is just looking for a paycheck. Remember, your resume and cover letter are not unique. With the huge number of layoffs today, there are likely to be many more people you have to compete against for a single position. You have to find new skills and new selling points in your abilities to highlight on your resume and your social networking pages.
Your reputation and your online personal play much more of a role in getting you a new job than your resume or your cover letter ever could. Your profiles on Facebook, MySpace and LinkedIn should be spruced up and optimized as much as possible to make you as attractive as you can be to a potential employer. And don’t forget to Google yourself to see what comes up.
4. Celebrate/Commemored, maybe even take a vacation.
You probably didn’t take time away while you were at your last job—use this period of adjustment to break free. It’ll give you a chance to get some perspective. Have drinks or a party and commemored being laid off ( Semacam acara perpisahan dengan rekan-rekan lama). Put a positive spin on this. Enjoy yourself. This will be one of the few times in life that you’re unencumbered by work. Read. Sleep. Do all the things you never get to do…believe it or not, you’ll miss this time when it’s gone.
5. Use your health insurance while you still have it.
I bet you haven’t been taking care of yourself or haven’t had the time. Get a full physical, go to the dentist. You can also explore meditation, acupuncture, or other complimentary therapies that can help you de-stress. Finding your next dream job is an endurance test and requires a lot of energy. Start eating well, do a cleanse, and go to the gym. Your energy and self-esteem will get a boost and this will be felt by everyone around you, including future employers.
6. Realize that something good will come from this.
You probably didn’t take time away while you were at your last job—use this period of adjustment to break free. It’ll give you a chance to get some perspective. Have drinks or a party and celebrate being laid off. Put a positive spin on this. Enjoy yourself. This will be one of the few times in life that you’re unencumbered by work. Read. Sleep. Do all the things you never get to do…believe it or not, you’ll miss this time when it’s gone.
7. Don’t rehash the story.
Blame something or someone for the loss or explain it to everyone ad nauseam. Blame never accomplishes anything. Don’t get addicted to your story: Why you got fired or how unlucky you are. It will hold you back. There is no shame or embarrassment to be had. Every successful person has lost a job at some stage. Instead of feeling shame, honor this as just a life change that will make you stronger. Stick around optimistic people, not victim circles. Ask yourself, “Who are you not thinking of that can help you?” And also, “Who is holding you back?”
8. Always frame things in the positive.
Say things like “I’m excited I’m back in the job market. It has given me a chance to really go after a job that I love,” as opposed to, “I recently got fired/lost my job.” People who are optimists and have positive beliefs will always get through this change better than others.
9. Let’s go of the way life should have gone.
Resisting the job loss causes more pain. Sometimes you know why you were fired, sometimes you just don’t. Don’t waste any time figuring it out. Be mature about anything you feel may have contributed to it. See the difference between reality and illusion (reality is you lost your job, illusion is you’ll never find another job.) Take a moment to go inside yourself, get silent and listen to your intuition. Some of your best ideas will come when you slow down enough and tune in.
10. Looking for a job is now your job.
It may take a lot longer to find a new job than you think it will. Many people are running out their unemployment benefits, taking six months or more to find a new job. You might have to settle for less. We’re in a tough economic climate and the dream job you want might not be available for the next few years. Some jobs leave the market and never come back, and you may be facing that reality. Don’t get discouraged. Remember, even in a bad economy, there are always jobs for good people.

Ok..Brother’s, no worries. God will give things the best to you, God will provide what you need not what you want…………… ( Majid’s Father/ From : Reader’s Digest Magazine)

Note:
Commemori    = Celebrate
Commemored =  Merayakan/mengenang hal yang menyedihkan
Celebrate       =  Merayakan / mengenag hal yang menggembirakan

Rabu, 25 Januari 2012

Produktifitas Kerja

Karyawan Senior Lebih Produktif Dari Yunior?

 Oleh : Abu Majid
    Yang namanya “orangtua”, di akui atau tidak memanglah tak segesit orang muda, tidak se-prima orang muda ( maaf…), tapi tak perlu berkecil hati karena dari sebuah penelitian “orangtua”  lebih sukses bertahan dari kesalahan dibanding orang muda. Merekapun lebih tenang dalam menghadapi permasalahan kerja.
  Didalam sebuah Perusahaan, persaingan tidak hanya terjadi antar pekerja junior atau antar pekerja senior, tetapi juga terjadi persaingan antara pekerja yunior dengan pekerja yang lebih senior. Namun, menurut para peneliti, pekerja yang berusia lebih tua memiliki produktivitas lebih besar dibandingkan mereka yang lebih muda. Yach bisa dikatakan idealnya pekerja yang lebih tua itu lebih matang dalam segala hal, lebih bijak dalam menanggapi dan menangani masalah. sedangkan pekerja muda biasanya lebih condong kepada ke”aku”an, gengsi dan cenderung berpikiran jangka pendek.

Pekerja yang lebih dewasa mungkin memiliki tenaga yang sedikit lebih lemah (maaf, enggak nemukan kata-kata yang lebih halus) dan kurang gesit daripada rekan-rekan junior mereka. Namun, mereka memiliki pengalaman lebih banyak, kemampuan bekerja di dalam tim yang telah teruji, dan lebih sukses bertahan jika terjadi suatu kesalahan dalam pekerjaan mereka. Makanya para junior, jangan pernah tak acuh ketika ada senior bercerita “masa lalu”, Why ?, karena cerita adalah satu pengalaman berharga mereka. Banyak hikmah yang dapat dipetik dari sebuah cerita.

"Kesalahan yang dibuat oleh para senior lebih dikarenakan penurunan kondisi fisik mereka, namun mereka hampir tidak pernah membuat kesalahan yang parah, mungkin karena pengalaman," begitu kata seorang ahli berpendapat. Pekerja senior memiliki pengalaman untuk mencegah kesalahan fatal dalam pekerjaan mereka (makanya sudah semestinya seorang karyawan senior itu memiliki pengetahuan yang komplit terhadap item-item pekerjaannya). Banyak cerita seorang junior mengatakan bahwa ada senior mereka yang “tak bisa apa-apa”, ada senior yang hanya makan “gaji buta”. Jangan salah, terlepas dari adanya kasus atau tidak, tapi mereka lolos test masuk perusahaan lho, mereka mampu menyingkirkan puluhan bahkan ratusan pesaing. Apa artinya ? Jangan pernah melihat dari sisi kelemahan seseorang, karena dibalik itu dia pasti punya keunggulan disisi lainya.

 Sebuah studi kasus pada pabrik Truk Mercedes Benz dijerman ( saya lupa sumbernya ), Para peneliti yang menfokuskan  penelitian pada para pekerja bagian produksi di perusahaan itu menemukan bahwa selain karyawan senior lebih produktif dibanding junior mereka dalam level pendidikan yang sama , ternyata banyak pekerja yunior yang berpendidikan tinggi justru kurang produktif daripada mereka yang memiliki kualifikasi pendidikan lebih rendah pada Job yang sama. Hal ini mungkin dikarenakan pekerja dengan pendidikan lebih tinggi, lebih cepat merasa bosan. Merasa tidak pada dunianya dan sebagainya.

Namun, para seniorpun patut berhati-hati terutama karyawan senior yang produktivitasnya kian hari kian menurun tanpa ada upaya untuk meningkatkan. Mereka harus berbuat sesuatu untuk meningkatkan produktifitasnya. Jika tidak, maka grafik produktifitas dan kinerja yang rendah akan menjadi senjata bagi managemen untuk mengeluarkan kebijakan pensiun dini.”. Managemen akan berpikir, karyawan yang seperti ini tentu sudah tidak memungkinkan untuk di upgrade pengetahuannya. Sehingga perusahaan hanya akan mengeluarkan biaya dengan memiliki karyawan seperti ini. Hal ini dikarenakan rendahnya produktivitas mereka akan sangat berpengaruh pada produktivitas secara keseluruhan. Dari sisi pandang junior anda, anda lah senior yang akan di cap “makan gaji buta”.

Jika kita persempit sisi pandang kita pada perusahaan Pupuk Kaltim, apakah berlaku juga hal yang demikian ?. Dari banyak kasus yang sempat saya amati, saya juga menemukan hal yang sama, Persaingan antar junior, persaingan antar senior maupun persaingan antara junior vs senior. Banyak cara yang dilakukan mereka, baik bersaing secara sehat maupun sebaliknya. It’s Normaly. Kenapa saya katakan normal, setiap orang punya keinginan untuk maju, ingin tampil “lebih” dibanding yang lain, terkadang hanya caranya yang berbeda.


Ok sahabat,  bersainglah dengan sehat, tunjukkan kualitas dan kemampuan anda , tunjukkan loyalitas anda lebih baik dari pesaing anda. Lakukan secara Fairplay, bukan menjatuhkan kawan di depan kawan lain dan atasan, bukan menjatuhkan kawan pada penilaian 360 derajat yang akan segera kita lakukan mulai tanggal 30 Januari 2012. ......................................( Abu Majid )

Salam Hangat untuk para senior saya....You're My Inspiration.